Tag

,

PROPOSAL PENDIRIAN

” PAUD ”

(Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Kompetensi dan Bernuansa Lokal)

Yayasan As Syahidah Tauhid

BAB I       PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

  1. 1. Profil Lembaga

Nama :  Yayasan As Syahidah Tauhid

Alamat : Jalan Trimurti Pasar 6 Dusun V Desa Bandar Klippa, Kec. Percut Sei Tuan, Kab. Deli Serdang 20371, Medan – Indonesia. Hp. 0852 9618 9700

Email/Facebook: cqattauhid@gmail.com   http://yptauhid.wordpress.com

Twitter: @budionoalamin

 

Bidang penanganan : Pendidikan

Fokus penanganan :  Pemberian beasiswa pendidikan dan bantuan pendirian sekolah gratis bagi anak usia dini

Fungsi lembaga : Developmental (membangun potensi masyarakat)

Pelaksana Harian : Budiono

 

  1. 2. Gambaran kondisi sosial ekonomi dan masalah yang dihadapi masyarakat sasaran aksi sosial

Tingkat partisipasi masyarakat Indonesia dalam bidang pendidikan bagi anak usia dini sangat rendah. Jika dibandingkan dengan Vietnam yang telah mencapai 43 persen, Filipina 27 persen, Thailand 86 persen, serta Malaysia 89 persen. Di Indonesia pada tahun 2005-2006 hanya sekitar 10,10 persen dari total 28 juta anak usia 0-6 tahun yang terserap dalam sekotr pendidikan.

Sebanyak 73 persen atau 20,4 juta anak belum mendapat pendidikan usia dini. Sisanya, 27 persen atau 7,5 juta anak sudah mengenyam PAUD seperti membaca dan berhitung yang dilakukan lembaga-lembaga nonformal, di antaranya kelompok bermain dan tempat penitipan anak (TPA) (Media Indonesia, 10 Juli 2006).

Rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pola pendidikan pra sekolah sebagian besar disebabkan oleh pengaruh kemiskinan yang melekat di sebagian besar kelompok masyarakat di Indonesia. Tingkat kemiskinan yang tinggi menyebabkan banyak keluarga yang kesulitan dalam menyekolahkan anak mereka terutama di tataran pendidikan pra sekolah (PAUD). Oleh karena itu diperlukan suatu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Yayasan As Syahidah Tauhid sebagai Lembaga yang turut membantu Pemerintah (khususnya Departemen Pendidikan Nasional) dalam mengatasi masalah tersebut merasa penting untuk dilakukan upaya-upaya yang terarah dalam meningkatkan tingkat partisipasi masyarakat miskin dalam bidang pendidikan pra sekolah (PAUD). Masalah yang muncul kemudian adalah bahwa ternyata bukan hanya fasilitas fisik yang dibutuhkan oleh masyarakat tersebut, tapi juga diperlukan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat yang nantinya akan menjadi tenaga-tenaga pengelola sarana pendidikan tersebut. Salah satu bentuknya adalah dengan memberdayakan masyarakat (khususnya Ibu dan anggota posyandu) sekitar sebagai tenaga pengajar di sekolah-sekolah alternatif di beberapa wilayah  tersebut.

 

PENDAHULUAN

Diperkirakan bahwa anak-anak yang mengulang kelas adalah anak-anak yang tidak masuk pendidikan prasekolah sebelum masuk SD. Mereka adalah anak yang belum siap dan tidak dipersiapkan oleh orangtuanya memasuki SD. Adanya perbedaan yang besar antara pola pendidikan di sekolah dan di rumah menyebabkan anak yang tidak masuk pendidikan taman kanak-kanak (prasekolah) mengalami kejutan sekolah dan mereka mogok sekolah atau tidak mampu menyesuaikan diri sehingga tidak dapat berkembang secara optimal. Hal ini menunjukkan pentingnya upaya pengembangan seluruh potensi anak usia prasekolah.

Usia 4-6 tahun, merupakan masa peka bagi anak. Anak mulai sensitif untuk menerima berbagai upaya perkembangan seluruh potensi anak. Masa peka adalah masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial emosional,konsep diri, disiplin, kemandirian, seni, moral, dan nilai-nilai agama. Oleh sebab itu dibutuhkan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan anak tercapai secara optimal.

Peran pendidik (orang tua, guru, dan orang dewasa lain) sangat diperlukan dalam upaya pengembangan potensi anak 4 – 6 tahun. Upaya pengembangan tersebut harus dilakukan melalui kegiatan bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain. Dengan bermain anak memiliki kesempatan untuk bereksplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi, belajar secara menyenangkan.  Selain itu bermain membantu anak mengenal dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan. Atas dasar hal tersebut di atas, maka kurikulum dikembangkan dan disusun berdasarkan tahap perkembangan anak untuk mengembangkan seluruh potensi anak.

 

II. PAUD ( Pendidikan Anak Usia Dini)

PAUD adalah suatu wadah pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak usia emapt tahun sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pada dasarnya ada lima kunci pelayanan anak usia dini yang dapat diidentifikasi di Indonesia, secara ringkas dapat dilihat sebagai berikut :

 

III. FUNGSI, TUJUAN, TARGET

a. Fungsi

Fungsi PAUD adalah:

a. Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak.

b. Mengenalkan anak dengan dunia sekitar.

c. Menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik.

d. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi.

e. Mengembangkan keterampilan, kreativitas dan kemampuan yang dimiliki anak.

f.  Menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan dasar ( kemampuan baca tulis)

 

b. Tujuan

Membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar.

 

c. Target

Target yang hendak dicapai melalui PAUD antara lain adalah :

  1. Anak dapat menyesuikan diri menghadapi pendidikan selanjutnya
  2. Anak memiliki etika dalam pergaulan
  3. Anak dapat bersosialisasi diri

 

IV. RUANG LINGKUP PAUD

Ruang lingkup PAUD meliputi aspek perkembangan:

1. Moral dan Nilai-nilai Agama.

2. Sosial, Emosional dan Kemandirian.

3. Kemampuan Berbahasa.

4. Kognitif.

5. Fisik/motorik, dan

6. Seni.

 

1. Bidang Pengembangan Pembentukan Perilaku melalui Pembiasaan

Pembentukan perilaku melalui pembiasaan merupakan kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus dan ada dalam kehidupan sehari-hari anak sehingga menjadi kebiasaan yang baik. Bidang pengembangan pembentukan perilaku melalui pembiasaan meliputi pengembangan moral dan nilai-nilai agama, serta pengembangan sosial, emosional dan kemandirian. Dari program pengembangan moral dan nilai-nilai agama diharapkan akan meningkatkan ketaqwaan anak terhadap Tuhan yang Maha Esa dan membina sikap anak dalam rangka meletakkan dasar agar anak menjadi warga negara yang baik. Program pengembangan sosial dan kemandirian dimaksudkan untuk membina anak agar dapat mengendalikan emosinya secara wajar dan dapat berinteraksi dengan sesamanya maupun dengan orang dewasa dengan baik serta dapat menolong dirinya sendiri dalam rangka kecakapan hidup.

2. Bidang Pengembangan Kemampuan Dasar

Pengembangan kemampuan dasar merupakan kegiatan yang dipersiapkan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas sesuai dengan tahap perkembangan anak. Pengembangan kemampuan dasar tersebut meliputi:

 

a. Kemampuan berbahasa.

Pengembangan ini bertujuan agar anak mampu mengungkapkan pikiran melalui bahasa yang sederhana secara tepat, mampu berkomunikasi secara efektif dan membangkitkan minat untuk dapat berbahasa Indonesia.

 

b. Kognitif.

Pengembangan ini bertujuan mengembangkan kemampuan berpikir anak untuk dapat mengolah perolehan belajarnya, dapat menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan masalah, membantu anak untuk mengembangkan kemampuan logika matematiknya dan pengetahuan akan ruang dan waktu, serta mempunyai kemampuan untuk memilah-milah, mengelompokkan serta mempersiapkan pengembangan kemampuan berpikir teliti.

 

c. Fisik/motorik.

pengembangan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan melatih gerakan kasar dan halus, meningkatkan kemampuan mengelola,mengontrol gerakan tubuh dan koordinasi, serta meningkatkan keterampilan tubuh dan cara hidup sehat sehingga dapat menunjang pertumbuhan jasmani yang kuat, sehat dan terampil.

 

d. Seni.

Pengembangan ini bertujuan agar anak dapat dan mampu menciptakan sesuatu berdasarkan hasil imajinasinya, mengembangkan kepekaan, dan dapat menghargai hasil karya yang kreatif.

 

V. STANDAR KOMPETENSI LINTAS KURIKULUM

Kompetensi lintas kurikulum merupakan kompetensi kecakapan untuk hidup dan belajar sepanjang hayat, serta kecakapan hidup yang diperlukan anak untuk mencapai seluruh potensi dalam kehidupan. Kompetensi ini merupakan kompetensi yang dibakukan yang harus dicapai oleh anak melalui pengalaman belajarnya. Standar kompetensi ini meliputi:

  1. Memiliki keyakinan, menyadari serta menjalankan hak dan kewajiban, saling menghargai dan memberi rasa aman, sesuai dengan agama yang dianutnya.
  2. Menggunakan bahasa untuk memahami, mengembangkan dan mengkomunikasikan gagasan dan informasi, serta untuk berinteraksi dengan orang lain.
  3. Memilih, memadukan, dan menerapkan konsep-konsep dan teknik-teknik, pola, struktur, dan hubungan.
  4. Memilih, mencari dan menerapkan teknologi dan informasi yang diperlukan dari berbagai sumber.
  5. Memahami dan menghargai dunia fisik, makhluk hidup dan teknologi, serta meggunakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai untuk mengambil keputusan yang tepat.
  6. Berpartisipasi, berinteraksi dan berperan aktif dalam masyarakat dan budaya global berdasarkan pemahaman konteks budaya, geografis dan historis.
  7. Berkreasi dan menghargai karya artistik, budaya, dan intelektual serta menerapkan nilai-nilai luhur untuk meningkatkan kematangan pribadi menuju masyarakat yang beradab.
  8. Berpikir logis, kritis, dan lateral dengan memperhitungkan potensi dan peluang untuk menghadapi berbagai kemungkinan.
  9. Menunjukkan motivasi dalam belajar, percaya diri, bekerja mandiri dan bekerja sama dengan orang lain.

 

VI. PENDEKATAN PEMBELAJARAN DAN PENILAIAN

1. Pendekatan Pembelajaran

Pendekatan pembelajaran pada pendidikan prasekolah  dilakukan dengan berpedoman pada suatu program kegiatan yang telah disusun sehingga seluruh perilaku dan kemampuan dasar yang ada pada anak dapat dikembangkan dengan sebaik-baiknya. Pendekatan pembelajaran pada anak TK dan RA hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Pembelajaran berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak yaitu:

  1. Anak belajar dengan baik apabila kebutuhan fisiknya terpenuhi serta merasakan aman dan tentram secara psikologis.
  2. Siklus belajar anak selalu berulang.
  3. Anak belajar melalui interaksi sosial dengan orang dewasa dan anak-anak lainnya.
  4. Minat dan keingintahuan anak akan memotivasi belajarnya.
  5. Perkembangan dan belajar anak harus memperhatikan perbedaan individu.

 

b. Berorientasi pada Kebutuhan Anak

Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis (intelektual, bahasa, motorik, dan sosio emosional). Dengan demikian berbagai jenis kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan melalui analisis kebutuhan yang disesuaikan dengan berbagai aspek perkembangan dan kemampuan pada masing-masing anak.

 

c. Bermain Sambil Belajar atau Belajar Seraya Bermain

Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran pada anak usia TK dan RA. Upaya-upaya pendidikan yang diberikan oleh pendidik hendaknya dilakukan dalam situasi yang menyenangkan dengan menggunakan strategi, metode, materi/bahan dan media yang menarik serta mudah diikuti oleh anak. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan dan memanfaatkan objek-objek yang dekat dengan anak, sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi anak. Bermain bagi anak merupakan proses kreatif untuk bereksplorasi, dapat mempelajari keterampilan yang baru dan dapat menggunakan simbol untuk menggambarkan dunianya. Ketika bermain mereka membangun pengertian yang berkaitan dengan pengalamannya. Pendidik mempunyai peran yang sangat penting dalam pengembangan bermain anak.

 

d. Menggunakan Pendekatan Tematik

Kegiatan pembelajaran hendaknya dirancang dengan menggunakan pendekatan tematik dan beranjak dari tema yang menarik minat anak. Tema sebagai alat/sarana atau wadah untuk mengenalkan berbagai konsep pada anak. Tema diberikan dengan tujuan:

• Menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh.

• Memperkaya perbendaharaan kata anak.

Jika pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan tema, maka pemilihan tema dalam kegiatan pembelajaran hendaknya dikembangkan dari hal-hal yang paling dekat dengan anak, sederhana, serta menarik minat anak. Penggunaan tema dimaksudkan agar anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas.

 

e. Kreatif dan Inovatif

Proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif dapat dilakukan oleh pendidik melalui kegiatan-kegiatan yang menarik, membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk berfikir kritis dan menemukan hal-hal baru. Selain itu dalam pengelolaan pembelajaran hendaknya dilakukan secara dinamis. Artinya anak tidak hanya sebagai obyek tetapi juga sebagai subyek dalam proses pembelajaran.

 

f. Lingkungan Kondusif

Lingkungan pembelajaran harus diciptakan sedemikian menarik dan menyenangkan sehingga anak selalu betah dalam lingkungan sekolah baik di dalam maupun di luar ruangan. Lingkungan fisik hendaknya memperhatikan keamanan dan kenyamanan anak dalam bermain. Penataan ruang harus disesuaikan dengan ruang gerak anak dalam bermain sehingga dalam interaksi baik dengan pendidik maupun dengan temannya dapat dilakukan secara demokratis. Selain itu, dalam pembelajaran hendaknya memberdayakan lingkungan sebagai sumber belajar dengan memberi kesempatan kepada anak untuk mengekspresikan kemampuan interpersonalnya sehingga anak merasa senang walaupun antar mereka berbeda (perbedaan individual). Lingkungan hendaknya tidak memisahkan anak dari nilai-nilai budayanya yaitu dengan tidak membedakan nilainilai yang dipelajari di rumah dan di sekolah ataupun di lingkungan sekitar. Pendidik harus peka terhadap karakteristik budaya masing-masing anak.

 

g. Mengembangkan Kecakapan Hidup

Proses pembelajaran harus diarahkan untuk mengembangkan kecakapan hidup. Pengembangan konsep kecakapan hidup didasarkan atas pembiasaan-pembiasaan yang memiliki tujuan untuk mengembangkan kemampuan menolong diri sendiri, disiplin dan sosialisasi serta memperoleh keterampilan dasar yang berguna untuk kelangsungan hidupnya.

 

2. Penilaian

Penilaian dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui pengamatan dan pencatatan anekdot. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui perkembangan dan sikap anak yang dilakukan dengan mengamati tingkah laku anak dalam kehidupan sehari-hari secara terus menerus, sedangkan pencatatan anekdot merupakan sekumpulan catatan tentang sikap dan perilaku anak dalam situasi tertentu. Berbagai alat penilaian yang dapat digunakan untuk memperoleh gambaran perkembangan kemampuan dan perilaku anak, antara lain:

  1. Portofolio yaitu penilaian berdasarkan kumpulan hasil kerja anak yang dapat menggambarkan sejauhmana ketrampilan anak berkembang.
  2. Unjuk kerja (performance) merupakan penilaian yang menuntut anak untuk melakukan tugas dalam perbuatan yang dapat diamati, misalnya praktek menyanyi, olahraga, memperagakan sesuatu.
  3. Penugasan (Project) merupakan tugas yang harus dikerjakan anak yang memerlukan waktu yang relatif lama dalam pengerjaannya. Misalnya melakukan percobaan menanam biji.
  4. Hasil karya (Product) merupakan hasil kerja anak setelah melakukan suatu kegiatan.

SASARAN KEGIATAN

Sasaran Kegiatan PAUD  adalah anak-anak yang berasal dari keluarga miskin.

 

ANGGARAN

Anggaran biaya di ambil dari Donatur, simpatisan, Intansi Pemerintah, Pengurus Yayasan. Dari dalam dan luar kota sampai luar negeri. Para siswa tidak di bebani biaya apapun.

 

WAKTU PELAKSANAAN

Kegiatan PAUD  dilaksanakan sesuai dengan jadwal kegiatan belajar mengajar berdasarkan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah

 

PENUTUP

Demikian proposal ini kami buat. Harapan kami mewujudkan visi ‘Membangun Generasi Berkarakter” di negara ini, bisa dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat memberikan manfaat bagi anak bangsa. Akhirnya hanya kepada Dia yang Maha Pengasih, kita kembalikan segala urusan. Semoga Dia memudahkan urusan hamba-hambaNya yang ingin berbuat baik terhadap sesama.

Medan, Juni  2012

Yayasan As Syahidah Tauhid

Ketua Yayasan As Syahidah Tauhid

 

Muhammad Budiono Al Amin

About these ads