BELAJAR NAWHU SHARAF

بسم الله الرحمن الرحيم
المقدمة

MUQADDIMAH


قَـالَ مُحَمَّد هُوَ ابنُ مَـالِكِ ¤ أَحْمَدُ رَبِّي اللَّهَ خَيْرَ مَالِكِ

Muhammad Ibnu Malik berkata: Aku memuji kepada Allah Tuhanku sebaik-baiknya Dzat Yang Maha Memiliki.

مُصَلِّيَاً عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى ¤ وَآلِـــهِ الْمُسْــتَكْمِلِينَ الْشَّــرَفَا

Dengan bersholawat atas Nabi terpilih dan atas keluarganya yang mencapai derajat kemulyaan.

وَأَسْــتَعِيْنُ اللهَ فِي أَلْفِيَّـــهْ ¤ مَقَاصِدُ الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ

Juga aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu.

تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ ¤ وَتَبْسُـطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ

Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat menjabar perihal detail dengan janji yang cepat.

وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ ¤ فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي

Kitab ini mudah menuntut kerelaan tanpa kemarahan, melebihi kitab Alfiyahnya Ibnu Mu’thi.

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ

Beliau lebih memperoleh keutamaan karena lebih awal. Beliau behak atas sanjunganku yang indah.

وَاللهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

Semoga Allah menetapkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat.

 

 

MuqoddimahMuqoddimah Alfiyah | Judul Kitab: Syarh Ibni ‘Aqil Li Alfiyyah Ibni Malik | Pengarang: Ibnu ‘Aqil ‘Abdullah Bin ‘Abdurrahman 769 H. | Tulisan Naskh Oleh: Al-Qousiy 1281 H. | Koleksi Manuskrip: Universitas King Saud. Link: http://makhtota.ksu.edu.sa/makhtota/1491/6

Kitab Nahwu Sharaf Alfiyah Ibnu Malik, adalah sebuah Kitab Mandzumah atau Kitab Bait Nadzam yang berjumlah seribu Bait, berirama Bahar Rojaz, membahas tentang kaidah-kaidah Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengarang Kitab Alfiyah ini, adalah seorang pakar Bahasa Arab, Imam yang Alim yang sangat luas ilmunya. Beliau mempunyai nama lengkap Abdullah Jamaluddin Muhammad Ibnu Abdillah Ibnu Malik at-Tha’iy al-Jayyaniy. Beliau dilahirkan di kota Jayyan Andalus (Sekarang: Spanyol) pada Tahun 600 H. Kemudian berpindah ke Damaskus dan meninggal di sana pada Tahun 672 H.

Karya emas beliau yang lain, yg cukup terkenal bernama Kitab Al-Kafiyah As-Syafiyah, terdiri dari tiga ribu Bait Nadzam yang juga bersyair Bahar Rojaz. Juga Kitab lainnya, karangan beliau yang terkenal bernama: Nadzam Lamiyah al-Af’al yang membahas Ilmu Sharaf, Tuhfatul Maudud yang membahas masalah Maqshur dan Mamdud. Semuanya membahas tentang  Tata Bahasa Arab baik Nahwu atau Sharaf.

Adapun Kitab Alfiyah ini adalah Kitab yang Ringkas berbentuk Nadzam, namun mencakup semua pembahasan masalah Ilmu Nahwu dengan detil. Sebagaimana beliau katakan pada Bait Muqaddimah pada Kitab Alfiyah ini:

“Juga aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu”.

Metode Kitab Alfiyah ini sebenarnya cukup memberikan kemudahan bagi pelajar untuk menguasainya. Tidak hanya untuk para senior. Karena Alfiyah ini cukup mengandung pengertian yang sangat luas, tapi dengan lafad yang ringkas. Sebagaimana beliau memberi penilaian terhadap Kitab Alfiyah ini, dalam Muqaddimahnya yang berbunyi:

“Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat menjabar perihal detail dengan janji yang cepat”

Kitab Alfiyah ini, disebut juga Kitab Khalashah yang berarti Ringkasan. Diringkas dari Kitab karangan beliau yang benama Al-Kafiyah As-Syafiyah, merupakan Kitab yang membahas panjang lebar tentang Ilmu Nahwu. Sebagaimana beliau berkata pada Bait terahir dari Kitab ini, yaitu pada Bait ke 1000:

“Telah terbilang cukup kitab Khalashah ini sebagai ringkasan dari Al-Kafiyah, sebagai kitab yang kaya tanpa kekurangan”.

Beliau juga memberi motivasi, bahwa Kitab ini dapat memenuhi apa yang dicari oleh para pelajar untuk memahami Ilmu Nahwu. Beliau berkata pada Bait ke 999

“Aku rasa sudah cukup dalam merangkai kitab Nadzom ini, sebagai Kitab yang luas pengertiannya dan mencakup semuanya”.

Begitulah memang, Kitab Alfiyah Ibnu Malik ini cukup sukses, mendapat kedudukan tinggi dan penilaian terhormat di hati para pencari ilmu gramatika Bahasa Arab. Dimanapun para pencinta Ilmu Nahwu pasti mengenalnya. Tersebar luas dan diajarkan di berbagai Lembaga-Lembaga Pendidikan. Tidaklah sedikit Kitab-Kitab Syarah yang menyarahi dari Nadzam Alfiyah Ibnu Malik ini, dan tidak sedikit pula Kitab Hawasyi yang menyarahi dari Syarahnya Kitab ini. Semoga beliau mendapat kedudukan yang tinggi disisi-Nya. Amin.

الْكَلاَمُ وَمَا يَتَألَّفُ مِنْهُ

Bab Kalam dan Sesuatu yang Kalam tersusun darinya

كَلاَمُــنَا لَفْــظٌ مُفِيْدٌ كَاسْــتَقِمْ ¤ وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ

Kalam (menurut) kami (Ulama Nahwu) adalah lafadz yang memberi pengertian. Seperti lafadz “Istaqim!”. Isim, Fi’il dan Huruf adalah (tiga personil) dinamakan Kalim

وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ وَالْقَوْلُ عَمْ ¤ وَكَلْمَةٌ بِهَا كَلاَمٌ قَدْ يُؤمْ

Tiap satu dari (personil Kalim) dinamakan Kalimat. Adapun Qaul adalah umum. Dan dengan menyebut Kalimat terkadang dimaksudkan adalah Kalam

Kitab NadzomKitab Nadzom Alfiyyah KLIK DOWNLOAD

KALAM

Definisi Kalam menurut Istilah Ulama Nahwu adalah Sebutan untuk Lafadz yang memberi pengertian satu faedah yaitu baiknya diam. Sehingga yang berkata dan yang mendengar mengerti tanpa timbul keiskalan.

  • Lafadz adalah nama jenis yang mencakup Kalam, Kalim, atau Kalimat, termasuk yang Muhmal (tidak biasa dipakai) ataupun yang Musta’mal (biasa dipakai) contoh perkataan Muhmal: دَيْزٌ Daizun, tidak mempunyai arti. Contoh perkataan Musta’mal عَمْرٌو ‘Amrun, ‘Amr nama orang.
  • Mufid (yang memberi pengertian) untuk mengeluarkan Lafdz yang Muhmal, atau hanya satu Kalimat, atau Kalim yang tersusun dari tiga kalimat atau lebih tapi tidak memberi pengertian faedah baiknya diam, seperti Lafadz: اِنْ قَامَ زَيْدٌ Apabila Zaid berdiri.

Susunan Kalam pada dasarnya Cuma ada dua: 1. ISIM + ISIM, 2. FI’IL + ISIM. Contoh pertama: زيد قائم Zaid orang yg berdiri. Contoh kedua قام زيد Zaid telah berdiri. Sebagaimana contoh Kalam yang disebutkan oleh Mushannif pada baris baitnya, yaitu lafadz استقم ISTAQIM! Artinya: berdirilah! Pada lafadz ini terdiri dari Fiil ‘Amar dan Isim Fa’il berupa Dhomir Mustatir (kata ganti yang disimpan) FI’IL + ISIM takdirnya adalah استقم أنت ISTAQIM ANTA, artinya: berdirilah kamu! maka contoh ini memenuhi criteria untuk disebut Kalam yaitu lafadz yang memberi pengertian suatu faidah. Sepertinya Mushannif mendefinisikan kalam pada bait syairnya sebagai berikut: Kalam adalah Lafadz yang memberi pengertian suatu faidah seperti faidahnya lafadz استقم.

Bab KalamBab Kalam Ibnu Aqil

KALIM

Adalah nama jenis yang setiap satu bagiannya disebut kalimat, yaitu: Isim, Fi’il dan Huruf. Jika Kalimat itu menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri tanpa terikat waktu, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT ISIM. Jika Kalimat itu menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri dengan menyertai waktu, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT FIIL. Jika Kalimat itu tidak menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri, melainkan kepada yang lainnya, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT HURUF. Walhasil Kalim dalam Ilmu Nahwu adalah susunan dari tiga kalimat tsb atau lebih, baik berfaidah ataupun tidak misal: إن قام زيد jika Zaid telah berdiri.

KALIMAT

Adalah lafadz yang mempunyai satu makna tunggal yang biasa dipakai. Keluar dari definisi Kalimat adalah lafadz yang tidak biasa dipakai semisal دَيْزٌ Daizun. Juga keluar dari definisi Kalimat yaitu lafadz yang biasa dipakai tapi tidak menunjukkan satu makna, semisal Kalam.

QAUL

Adalah mengumumi semua, maksudnya termasuk Qaul adalah Kalam, Kalim juga Kalimat. Ada sebagian ulama berpendapat bahwa asal mula pemakaian Qaul untuk Lafadz yang mufrad (tunggal).

Selanjutnya Mushannif menerangkan bahwa menyebut Kalimat terkadang yang dimaksudkan adalah kalam. Seperti lafadz لا إله إلا الله Orang Arab menyebut Kalimat Ikhlash atau Kalimat Tahlil.

Sebutan Kalam dan Kalim, terkadang keduanya singkron saling mencocoki satu sama lain, dan terkadang tidak. Contoh yang mencocoki keduanya: قد قام زيد Zaid benar-benar telah berdiri. contoh tersebut dinamakan Kalam karena memberi pengertian, mempunyai faidah baiknya diam. Dan juga dinamakan Kalim karena tersusun dari ketiga personil Kalimat. Contoh hanya disebut Kalim: إن قام زيد Apabila Zaid berdiri. Dan contoh hanya disebut Kalam: زيد قائم Zaid orang yang berdiri.

بِالجَرِّ وَالتّنْوِيْنِ وَالنِّدَا وَاَلْ ¤ وَمُسْنَدٍ لِلإسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ

Dengan sebab Jar, Tanwin, Nida’, Al, dan Musnad, tanda pembeda untuk Kalimat Isim menjadi berhasil.

Bab KalamNadzom Alfiyah

Pada Bait ini, Mushannif menyebutkan tentang Tanda-tanda Kalimat Isim (Kata Benda). Sebagai ciri-cirinya untuk membedakan dengan Kalimat yang lain (Kalimat Fi’il/Kata Kerja dan Kalimat Huruf/Kata Tugas). Diantaranya adalah: Jar, Tanwin, Nida’, Al (Alif dan Lam) dan Musnad.

Jarr جر

Tanda Kalimat Isim yang pertama adalah Jar, mencakup: Jar sebab Harf, Jar sebab Idhafah dan Jar sebab Tabi’. Contoh:

مَرَرْتُ بغُلاَمِ زَيْدٍ الفَاضِلِ

Aku berjumpa dengan Anak Lelakinya Zaid yang baik itu.

Lafadz غلام dikatakan Jar sebab Harf (dijarkan oleh Kalimah Huruf), Lafadz زيد dikatakan Jar sebab Idhafah (menjadi Mudhaf Ilaih), dan Lafadz الفاضل dikatakan Jar sebab Tabi’ (menjadi Na’at/Sifat). Hal ini menunjukkan bahwa perkataan Mushannif lebih mencakup dari Qaul lain yang mengatakan bahwa tanda Kalimat Isim sebab Huruf Jarr, karena ini tidak mengarah kepada pengertian Jar sebab Idhafah dan Jar sebab Tabi’.

Tanwin تنوين

Tanda Kalimat Isim yang kedua adalah Tanwin. Tanwin adalah masdar dari Lafadz Nawwana yang artinya memberi Nun secara bunyinya bukan tulisannya. Sebagai tanda baca yang biasanya ditulis dobel ( اً-اٍ-اٌ ). Di dalam Ilmu Nahwu, Tanwin terbagi empat macam:

  • Tanwin Tamkin: yaitu Tanwin standar yang pantas disematkan kepada Kalimat-kalimat Isim yang Mu’rab selain Jamak Mu’annats Salim dan Isim yang seperti lafadz جوار dan غواش (ada pembagian khusus). Contoh: زيد dan رجل di dalam contoh:

جَاءَ زَيْدٌ هُوَ رَجُلٌ

Zaid telah datang dia seorang laki-laki

  • Tanwin Tankir: yaitu Tanwin penakirah yang pantas disematkan kepada Kalimat-kalimat Isim Mabni sebagai pembeda antara Ma’rifahnya dan Nakirahnya. Seperti Sibawaeh sang Imam Nahwu (yang Makrifah) dengan Sibawaeh yang lain (yang Nakirah). Contoh:

مَرَرْتُ بِسِبَوَيْهِ وَبِسِبَوَيْهٍ آخَرَ

Aku telah berjumpa dengan Sibawaeh (yang Imam Nahwu) dan Sibawaeh yang lain.

 

 

  • Tanwin Muqabalah: yaitu Tanwin hadapan yang pantas disematkan kepada Isim Jamak Mu’annats Salim (Jamak Salim untuk perempuan). Karena statusnya sebagai hadapan Nun dari Jamak Mudzakkar Salimnya (Jamak Salim untuk laki-laki). Contoh:

أفْلَحَ مُسْلِمُوْنَ وَمُسْلِمَاتٌ

Muslimin dan Muslimat telah beruntung.

 

 

  • Tanwin ‘Iwadh: atau Tanwin Pengganti, ada tiga macam:
    ◊ Tanwin Pengganti Jumlah: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Lafadz إذ sebagai pengganti dari Jumlah sesudahnya. Contoh Firman Allah:

وَأنْتُمْ حِيْنَئِذٍ تَنْظًرُوْنَ

Kalian ketika itu sedang melihat.

Maksudnya ketika nyawa sampai di kerongkongan. Jumlah kalimat ini dihilangkan dengan mendatangkan Tanwin sebagai penggantinya.

◊  Tanwin Pengganti Kalimah Isim: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Lafadz كل sebagai pengganti dari Mudhaf Ilaihnya. Contoh:

كَلٌّ قَائِمٌ

Semua dapat berdiri.

Maksudnya Semua manusia dapat berdiri. Kata manusia sebagai Mudhaf Iliahnya dihilangkan dan didatangkanlah Tanwin sebagai penggantinya.

◊  Tanwin Pengganti Huruf: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada lafadz جوار dan غواش dan lain-lain sejenisnya, pada keadaan I’rab Rafa’ dan Jarrnya. Contoh:

هَؤُلاَءِ جَوَارٍ. وَمَرَرْتُ بِجَوَارٍ

Mereka itu anak-anak muda. Aku berjumpa dengan anak-anak muda.

Pada kedua  lafadz جوار asal bentuknya جواري kemudian Huruf Ya’ nya dibuang didatangkanlah Tanwin sebagai penggantinya.

Pembagian macam-macam Tanwin yang telah disebutkan di atas, merupakan Tanwin yang khusus untuk tanda Kalimat Isim. Itulah yang dmaksudkan dari kata Tanwin dalam Bait tsb, yaitu Tanwin Tamkin, Tanwin Tankir, Tanwin Muqabalah dan Tanwin ‘Iwadh.

Adapun Tanwin Tarannum/Taronnum dan Tanwin Ghali, yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Qofiyah atau kesamaan bunyi huruf akhir dalam bait-bait syair Bahasa Arab. Tidak dikhususkan untuk Kalimat Isim saja, tapi bisa digunakan untuk Kalimat Fi’il dan juga untuk Kalimat Harf.

Nida’ نداء

Tanda Kalimat Isim yang ketiga adalah Nida’. Yaitu memanggil dengan menggunakan salah satu kata panggil atau Huruf Nida’ berupa يا dan saudara-saudaranya. Huruf Nida dikhususkan kepada Kalimat Isim karena Kalimat yang jatuh sesudah Huruf Nida’ (Munada) statusnya sebagai Maf’ul Bih. Sedangkan Maf’ul Bih hanya terjadi kepada Kalimat Isim saja. Contoh:

يَا رَسُوْلَ اللهِ

Wahai Utusan Allah.

AL أل

Tanda Kalimat Isim yang keempat berupa AL أل atau Alif dan Lam. Yaitu AL yang fungsinya untuk mema’rifatkan dan AL Zaidah. Contoh:

رَجَعَ الرَجُلُ مِنَ المَكَّةَ

Orang laki-laki itu telah pulang dari kota Mekkah.

AL pada Lafadz الرَجُلُ dinamakan AL Ma’rifat, sedang AL pada Lafadz المَكَّةَ dinamakan AL Zaidah. Sedangkan AL yang selain disebut di atas, tidak khusus masuk kepada Kalimat Isim. seperti AL Isim Maushul yang bisa masuk kepada Kalimat Fi’il Mudhori’, dan AL Huruf Istifham yang bisa masuk kepada Fi’il Madhi.

Musnad  مسند

Tanda Kalimat Isim yang kelima adalah Musnad. Artinya yang disandar atau menurut Istilah yang  dihukumi dengan suatu hukum. Contoh:

قَاَمَ زَيْدٌ وَ زَيْدٌ قَائِمٌ

Zaid telah berdiri dan Zaid adalah orang yang berdiri.

Kedua Lafadz زيد pada contoh di atas merupakan Musnad atau yang dihukumi dengan suatu hukum, yaitu hukum berdiri.  Hukum berdiri pada lafadz Zaid yang pertama adalah Kata Kerja dam Hukum berdiri untuk Lafadz Zaid yang kedua adalah Khabar.

بِتَا فَعَلْتَ وَأَتَتْ وَيَا افْعَلِي ¤ وَنُوْنِ أَقْبِلَنَّ فِعْـــلٌ يَنْجَلِي

Dengan tanda Ta’ pada lafadz Fa’alta dan lafadz Atat, dan Ya’ pada lafadz If’ali, dan Nun pada Lafadz Aqbilanna, Kalimah Fi’il menjadi jelas.

Matan Nazham Alfiyyah

Bait ini menjelaskan bahwa Kalimat Fi’il dibedakan dari Kalimah Isim dan Kalimah Huruf, dengan beberapa tanda-tanda pengenalnya sebagaimana disebutkan dalam bait syair, yaitu:

Ta’ Fail

Ta’ dalam contoh فَعَلْتَ dimaksudkan adalah Ta’ Fail mancakup:

  • Ta’ Fail untuk Mutakallim, Ta’ berharkat Dhommah contoh:

ضَرَبْتُ زَيْداً

Aku memukul Zaid.

  • Ta’ Fail untuk Mukhatab, Ta’ berharkat Fathah contoh:

ضَرَبْتَ زَيْداً

Engkau (seorang laki-laki) memukul Zaid.

  • Ta’ Fail untuk Mukhatabah, Ta’ berharkat Kasroh contoh:

ضَرَبْتِ زَيْداً

Engkau (seorang perempuan ) memukul Zaid.

Ta’ Ta’nits Sukun

Ta’ dalam contoh lafadz اَتَتْ Maksudnya adalah Ta’ Ta’nits yang Sukun. Contoh:

ضَرَبَتْ زَيْداً

Dia (seorang perempuan) memukul Zaid.

Menyebut  Ta’ Ta’nits Sukun untuk membedakan dengan Ta’ Ta’nits yang tidak sukun yang bisa masuk kepada Kalimat Isim dan Kalimat Hururf

  • Bisa masuk pada Kalimat Isim contoh:

هِيَ مُسْلِمَةٌ

Dia seorang Muslimah.

  • Bisa masuk kepada kalimat Huruf contoh:

وَلاَتَ حِينَ مَنَاصٍ

Ketika itu tidak ada tempat pelarian.

Ya’ Fa’il

Ya’ dalam contoh lafadz افْعَلِيْ dimaksudkan adalah Ya’ Fail mancakup:

  • Ya’ Fa’il pada Fi’il Amar. Contoh:

اضْرِبِيْ

Pukullah wahai seorang perempuan!

  • Ya’ Fa’il pada Fi’il Mudhori’, contoh:

تَضْرِبِيْنَ زَيْداً

Engkau (seorang perempuan) akan memukul Zaid.

Menyebut Ya’ If’aliy atau Ya’ Fail, dan tidak menyebut Ya’ Dhomir dikarenakan termasuk Ya’ Dhomir Mutakallim yang tidak Khusus masuk kepada Fi’il tapi bisa masuk kepada semua Kalimat contoh:

سَأَلَنِيْ اِبْنِيْ عَنِّيْ

Anakku menanyaiku tentang aku.

Nun Taukid

Nun dalam contoh lafadz أقْبِلَنَّ dimaksudkan adalah Nun Taukid mancakup:

  • Nun Taukid Khofifah tanpa Tansydid contoh:

لَنَسْفَعَنْ بِالنَّاصِيَةِ

Sungguh akan Kami tarik ubun-ubunnya.

  • Nun Taukid Tsaqilah memakai Tansydid contoh:

لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ

Sunggah kami akan mengeluarkanmu wahai Syu’aib.

سِوَاهُمَا الْحَرْفُ كَهَلْ وَفِي وَلَمْ ¤ فِعْـــلٌ مُـضَــارِعٌ يَلِي لَمْ كَـيَشمْ

Selain keduanya (ciri Isim dan Fi’il) dinamaan Kalimah Huruf, seperti lafadz Hal, Fi, dan Lam. Ciri Fi’il Mudhori’ adalah dapat mengiringi Lam, seperti lafadz Lam Yasyam.

وَمَاضِيَ الأَفْعَالِ بِالتَّا مِزْ وَسِمْ ¤ بِالنُّـــوْنِ فِعْلَ الأَمْرِ إِنْ أَمْرٌ فُهِمْ

Dan untuk ciri Fi’il Madhi, bedakanlah olehmu! dengan tanda Ta’. Dan namakanlah Fi’il Amar! dengan tanda Nun Taukid (sebagi cirinya) apabila Kalimah itu menunjukkan kata perintah.

وَالأَمْرُ إِنْ لَمْ يَكُ لِلنّوْنِ مَحَلْ ¤ فِيْهِ هُوَ اسْمٌ نَحْوُ صَهْ وَحَيَّهَلْ

Kata perintah jika tidak dapat menerima tempat untuk Nun Taukid, maka kata perintah tersebut dikategorikan Isim, seperti Shah! dan Hayyahal!

Pembagian Kalimah Huruf dan Ciri-Cirinya

 

Kalimah Huruf dapat dibedakan dengan Kalimah-Kalimah yang lain, yaitu Kalimat selain yang dapat menerima tanda Kalimah Isim dan tanda Kalimat Fi’il, atau Kalimat yang tidak bisa menerima tanda-tanda Kalimat Isim dan Fi’il. Kemudian dicontohkannya dengan Lafad هل, في, dan لم , ketiga contoh Kalimat Huruf tsb menunjukkan penjelasan bahwa Kalimat Huruf terbagi menjadi dua:

Alfiyah Bait 12-13-14

  • Kalimah Huruf Ghair Mukhtash (Tidak Khusus), bisa masuk pada Kalimat Isim, juga bisa masuk pada Kalimat Fi’il. Contoh هل :

هَلْ زَيْدٌ قَائِمٌ وَهَلْ قَامَ زَيْدٌ

Apakah Zaid orang yg berdiri? Dan apakah Zaid telah berdiri?

Lafadz “HAL” yang pertama masuk pada Kalimat Isim dan “HAL” yang kedua masuk pada Kalimat Fi’il.

  • Kalimat Huruf Mukhtash (Khusus), khusus masuk pada Kalimat Isim contoh في, dan khusus masuk pada Kalimat Fiil contoh لم :

لَمْ يَقُمْ زَيْدٌ فِي الدَّارِ

Zaid tidak berdiri di dalam Rumah.

Pembagian Kalimah Fi’il dan Ciri-Cirinya

Bait diatas juga menenerangkan bahwa Kalimah Fi’il terbagi menjai Fi’il Madhi, Fi’il Mudhari’ dan Fi’il Amar berikut ciri masing-masing.

  • Dikatakan Fi’il Mudhori apabila pantas dimasuki لم  contoh:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan

  • Dikatakan Fi’il Madhi apabila pantas dimasuki Ta’ Fa’il dan Ta’ Ta’nits Sakinah contoh:

قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي

Balqis berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku”

  • Dikatakan Fi’il Amar apabila bentuknya menunjukkan perintah dan pantas menerima Nun Taukid contoh:

أَكْرِمَنَّ الْمِسْكِين

Sungguh hormatilah oranga miskin !

Apabila ada kalimah yang menunjukkan kata perintah tapi tidak pantas menerima Nun Taukid, maka kalimah tersebut digolongkan “Isim Fi’il” seperti lafadz حيهل menyuruh terima dan lafadz صه menyuruh diam, Contoh:

صَهْ إذَا تَكَلَّمَ غَيْرُكَ

Diamlah ! jika orang lain berbicara

صه dan حيهل keduanya disebut kalimat Isim sekalipun menunjukkan tanda perintah, perbedaannya adalah dalam hal tidak bisanya menerima Nun Taukid. Oleh karena itu tidak bisa dilafadzkan صهن atau حيهلن

الْمُعْرَبُ وَالْمَبْنِي

BAB MU’RAB DAN MABNI

وَالاسْمُ مِنْهُ مُعْرَبٌ وَمَبْنِي ¤ لِشَبَـــهٍ مِنَ الْحُــرُوْفِ مُدْنِي

Diantaranya Kalimat Isim ada yang Mu’rab, dan ada juga yang Mabni karena keserupaan dengan kalimah Huruf secara mendekati.

 

Kitab Alfiyah Bab Mu’rob dan Mabni

Bait ini menerangkan bahwa kalimah isim terbagi menjadi:

  • Isim Mu’rob: yaitu Isim yang selamat dari keserupaan dengan Kalimat Huruf.
  • Isim Mabni: yaitu Isim yang dekatnya keserupaan dengan kalimat huruf.

Menurut pendapat Kyai Mushannif bahwa yang menjadi illat kemabnian Kalimat Isim dirumuskan menjadi “Serupa Kalimat Huruf” yang akan dijelaskan bagian-bagiannya pada dua bait berikutnya. Rumusan Mushannif ini sejalan dengan pendapat Mazhab Nahwu lain seperti Imam Abu Ali al-Farisi, juga Imam Sibawaih, bahwa Illat kemabnian kalimat Isim semuanya dikembalikan kepada “Serupa kalimat Huruf”.

كَالْشَّبَهِ الْوَضْعِيِّ فِي اسْمَيْ جِئْتَنَا ¤ وَالْمَعْـنَـــوِيِّ فِي مَتَى وَفِي هُـــــــنَا

Seperti keserupaan bangsa “Wadh’i” di dalam dua isimnya lafadz جئتنا. Dan keserupaan bangsa “Ma’nawi” dalam contoh متى dan هنا.

 

وَكَنِيَابَةٍ عَنِ الْفِعْلِ بِلاَ ¤ تَأَثُّــــرٍ وَكَافْــتِقَارٍ أُصِّلا

Dan keserupaan bangsa “Niyabah” pengganti dari Fi’il tanpa pembekasan I’rob (Isim Fi’il). Dan keserupaan bangsa “Iftiqoriy” kebutuhan yang dimustikan (membutuhkan shilah) .

 

Kitab Alfiyah Bab Mu’rob dan Mabni

Disebutkan pada dua bait di atas tentang macam-macam keserupaan kalimat isim terhadap kalimat huruf yang menjadi faktor kemabnian Kalimat Isim tersebut. Segi keserupaan ini terdapat pada empat faktor:

Keserupaan pada Kalimat Huruf bangsa Wadh’i/ kondisi bentuknya:

Yaitu isim yang bentuknya serupa dengan bentuk kalimat huruf, hanya terdiri dari satu huruf misal TA’ pada lafadz ضربت. Atau hanya terdiri dari dua huruf misal NA pada lafadz أكرمنا. Sebagaimana contoh dalam Bait:

جئتنا

Engkau datang kepada kami.

TA’nya adalah Isim Fa’il dan NAnya adalah Isim Maf’ul dari Kata Kerja جَاءَ

Keserupaan pada Kalimat Huruf bangsa Ma’nawi/maknanya:

Dalam hal ini ada dua term:
(1). Keserupaan bangsa makna yang ada padanannya, misal متى serupa maknanya dengan Kalimat Huruf Istifham (kata tanya). Atau serupa maknanya dengan Kalimat Huruf Syarat.

→ Contoh Isim Istifham:

مَتَى تَقُومُ ؟

Kapan kamu mau berdiri?

مَتى السّفرُ ؟

Kapan bepergian?

مَتَى نَصْرُ الله أَلاَ إِنَّ نَصْرَ الله قَرِيبٌ

“Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

→ Contoh Isim Syarat:

مَتَى تَقُمْ أَقُمْ

Bilamana kamu berdiri, niscaya aku ikut berdiri.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

 

(2). Keserupaan bangsa Ma’nawi yang dikira-kira, karena tidak ada padanannya. Misal هنا artinya: disini (kata tunjuk sesuatu/Isim Isyarah) serupa maknanya dengan Kalimat Huruf secara dikira-kira karena tidak ada contoh kalimat huruf padanannya. Namun demikian, Isim isyarah ini menunjukkan makna dari suatu makna, diserupakan dengan Kalimat Huruf yang juga menunjukkan karakter demikian, seperti Kalimat Huruf  ما Nafi untuk meniadakan sesuatu, لا Nahi untuk mencegah sesuatu, ليت Tamanni untuk mehayalkan sesuatu, dan لعل Taroji untuk mengharap sesuatu, dan lain-lain. Contoh:

أَتُتْرَكُونَ فِي مَا هَاهُنَا آمِنِينَ

Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan aman

Keserupaan pada Kalimat Huruf bangsa Niyabah/pengganti Fi’il

Yaitu semua jenis “Isim Fi’il” atau Kalimah Isim yang beramal seperti amal Kalimah Fi’il beserta bebas dari bekas ‘Amil, yang demikian adalah seperti Kalimat Huruf. Contoh:

هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ

jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu

دَرَاكِ زَيْدًا

Temukan Zaid!

Lafazh دراك “Darooki” pada contoh ini adalah Isim Mabni (Mabni Kasroh) karena serupa dengan Kalimah Huruf pada faktor Niyabah. disebutkan dalam Bait: بلا تأثر “yang tanpa dibekasi amil” atau mengamal I’rob tanpa bisa diamali I’rob. Adalah untuk membedakan dengan Isim yang beramal seperti Kalimat Fi’il tapi ada bekas Amil. Contoh:

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa!

ضَرْبًا زَيْدًا

Pukullah Zaid!

Lafadz ضربا “Dhorban” adalah Isim masdar yang dinashobkan oleh ‘Amil yaitu Kalimat Fi’il yang dibuang, menggantikan tugas Kalimat Fi’il اضرب “Idhrib!” pukullah!. Berbeda dengan lafadz دراك “Darooki” sekalipun dikatakan pengganti tugas Kalimat Fi’il أدرك “Adrik!” temukan! Tapi ia mandiri tanpa ada pembekasan ‘Amil.

Walhasil dari apa yang tersirat dari Bait Syair Mushannif: bahwa Masdar dan Isim Fi’il bersekutu dalam hal sama-sama menggantikan tugas Kalimat Fi’il. Perbedaannya adalah: Masdar ada bekas ‘Amil, dihukumi Mu’rob karena tidak serupa dengan Kalimat Huruf. sedangkan “Isim Fi’il” tidak ada bekas ‘Amil, dihukumi Mabni karena serupa dengan Kalimah Huruf.

Mengenai kemabnian dan masalah khilafiyah yang ada pada Kalimat Isim Fiil ini, akan diterangkan nanti pada Bait-Bait Syair Mushannif secara khusus yaitu pada Bab Isim Fi’il dan Isim Ashwat. Insya Allah.

Keserupaan pada Kalimah Huruf bangsa Iftiqoriy/kebutuhan yang musti.

Maksudnya adalah Isim Maushul seperti الذي dan saudara-saudaranya, musti butuh terhadap jumlah sebagai shilahnya. Sama seperti Kalimah Huruf yang musti butuh kepada kalimat lain. Oleh karena itu Isim Maushul dihukumi Mabni. Disebutkan dalam Bait وكافتقار أصلا “Kebutuhan yang dimustikan” untuk membedakan dengan Kalimah Isim yang Iftiqorinya/karakter kebutuhannya tidak musti. Seperti “Isim Nakirah” yang disifati, butuh terhadap jumlah sebagai sifatnya, namun  kebutuhannya itu tidak sampai pada kategori lazim atau musti. Contoh:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي اْلاَرْضِ جَمِيعًا

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu

Kesimpulan dari dua Bait di atas, bahwa Isim Mabni ada enam bab: ISIM DHOMIR, ISIM SYARAT, ISIM ISTIFHAM, ISIM ISYARAH, ISIM FI’IL dan ISIM MAUSHUL.

وَمُعْرَبُ الأَسْمَاءِ مَا قَدْ سَلِمَا ¤ مِنْ شَبَهِ الْحَرْفِ كَأَرْضٍ وَسُمَا

Adapun Mu’robnya Kalimah-kalimah Isim, adalah Isim yang benar-benar selamat dari serupa Kalimah Huruf seperi contoh: “Ardhin” dan “Sumaa”.

Bait ini menerangkan bahwa Isim Mu’rob berlawanan dengan Isim Mabni, artinya: dikatakan Isim Mu’rob karena tidak ada keserupaan dengan Kalimah Huruf, baik Isim Mu’rob itu Shahih akhir tidak ada huruf illat seperti أَرْض, (Ardhin : Bumi) atau Mu’tal yang diakhiri dengan huruf illat seperti سُمَا (Sumaa : Nama, salah satu bahasa dari kata ٌاسْم), juga Isim Mu’rob itu ada yang “Mutamakkin Amkan” pantas tanwin dan mungkin (Isim Munshorif) seperti ُزَيْد , عَمْرٌو dan ada yang “Mutamakkin Ghair Amkan” pantas tanwin tapi tidak mungkin (Isim tidak Munshorif) seperti ُأَحْمَدُ , مَسَاجِدُ, مَصَابِيْح . Sedangkan Isim Mabni disebut “Ghairu Mutamakkin” sama sekali tidak pantas tanwin.

وَفِـــعْلُ أَمْـرٍ وَمُضِيٍّ بُنِـيَا ¤ وَأَعْرَبُوا مُضَارِعَاً إنْ عَرِيَا

Fi’il Amar dan Fi’il Madhi, keduanya dihukumi Mabni. Dan mereka Ulama Nahwu sama menghukumi Mu’rab terhadap Fi’il Mudhari’ jika sepi…

مِنْ نُوْنِ تَوْكِيْدٍ مُبَاشِرٍ وَمِنْ ¤ نُوْنِ إنَــاثٍ كَيَرُعْنَ مَنْ فُـــتِنْ

…Dari Nun Taukid yang mubasyaroh (bertemu langsung) dan Nun Jamak Mu’annats, seperti lafadz: Yaru’na Man Futin.

 

Bait 19-20Syarah Ibnu Aqil – Alfiyah Bait 19-20

Setelah sebelumnya menerangkan Mu’rob dan Mabni untuk Kalimah Isim, selanjutnya pada dua Bait diatas Mushannif menerangkan Mu’rob dan Mabni untuk Kalimah Fi’il.

Menurut Qaul Madzhab Bashrah, bahwa asal-asal Kalimah Isim adalah Mu’rob sedangkan asal Kalimah Fi’il adalah Mabni. Adapun menurut Qaul Madzhab Kufah, bahwa hukum Mu’rob adalah asal bagi Kalimah Isim pun juga Kalimah Fi’il. Qaul yang pertama adalah Qaul yang lebih shahih. Sedangkan nukilan Dhiyauddin Bin ‘Ilj dalam kitabnya Al-Basith mengatakan: diantara sebagian Ahli Nahwu berpendapat bahwa Mu’rob merupakan asal untuk Kalimah Fi’il, dan cabang untuk Kalimah Isim.

FI’IL MADHI

Mufakat dalam hal kemabniannya

Mabni Fathah apabila tidak bersambung dengan wau jama’ dan dhomir rofa’ mutaharrik, contoh:

Mabni Fathah Dzahiran:

جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ

Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.

Mabni Fathah Taqdiran:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya.

Mabni Dhommah jika bersambung dengan Wau Jama’ contoh:

قَالُوا سُبْحَانَكَ

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau”

Mabni Sukun jika bersambung dengan Dhomir Rofa’ Mutaharrik (yaitu: Ta’ Fa’il, Naa Fa’il, Nun Mu’annats.) contoh:

فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ

apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil).

إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ

sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau

وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.

FI’IL AMAR

Ikhtilaf dalam hal kemabniannya, Mabni menurut Ahli Nahwu Bashrah dan Mu’rob menurut Ahli Nahwu Kufah. dan yang lebih Rajih adalah hukum Mabni atas Jazmnya Fi’il Mudhari’.

Mabni Sukun apabila Shahih Akhir dan atau bersambung dengan Nun Jamak Mu’annats. contoh:

قُمْ فَأَنْذِرْ

bangunlah, lalu berilah peringatan!…!

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat…!

Mabni atas membuang Nun, apabila bersambung dengan Alif Tatsniyah atau Wau Jama’ atau Ya’ Muannats Mukhathabah. contoh:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى

Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas…!

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’…!

يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ

Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’…!

Mabni Membuang Huruf Illat apabila Kalimah Fi’il Amar tsb Mu’tal Akhir. contoh:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik …!

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ

dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar …!

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ

Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah …!

Mabni Fathah apabila bersambung dengan Nun Taukid. contoh:

اتركَنَّ الجدال

Sungguh tinggalkanlah! berbantah-bantahan …!

FI’IL MUDHARI’

Hukum Mu’rob untuk Kalimah Fi’il yaitu Fi’il Mudhari’, dengan syarat tidak bersambung dengan Nun Jamak Mu’annats atau Nun Taukid yang Mubasharoh (bersambung langsung).

Contoh:

اللَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali; kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan >

 

Apabila bersambung dengan Nun Taukid yang Mubasyaroh (bersambung langsung), baik Nun Taukid tsb Khafifah (ringan, tanpa tasydid) atau Tsaqilah (berat, memakai tasydid) maka Fi’il Mudhari’ tsb dihukumi Mabni Fathah.

Contoh:

كَلَّا لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ

sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah

Apabila bersambung dengan Nun Jamak Muannats, maka Fi’il Mudhari’ tsb dihukumi Mabni Sukun.

Contoh:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’

Apabila Fi’il Mudhori’ tidak bersambung secara langsung dengan Nun Taukid, seperti Fiil Mudhori’ yg bersambung dengan Alif Tatsniyah, artinya diantara Fi’il Mudhari’ dan Nun Taukid ada pemisah yaitu Alif Tatsniyah. Maka tetap dihukumi Mu’rob. tanda I’robnya sebagaimana FI’il Mudhori’ sebelum dimasuki Nun Taukid.

Contoh:

هَلْ تَذْهَبَانَّ

Apakah kamu berdua benar-benar akan pergi ?

Pada contoh ini lafadz تَذْهَبَانَّ asal lafadznya adalah تَذْهَبَانَنَّ berkumpul tiga nun, maka dibuang Nun yang pertama yaitu Nun Rofa’, alasannya berat karena tiga huruf yg sama beriringan.

وَلَا تَتَّبِعَانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

dan janganlah sekali-kali kamu berdua mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui

Demikian juga Mu’rob, yaitu Fi’il Mudhori’ yang bersambung dengan Wau Jama’ atau Ya’ Mukhathabah karena ada pemisah antara Fi’il Mudhori’ dan Nun Taukid. contoh:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah.”

فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: Jika kamu melihat seorang manusia…

Demikianlah apa yang dimaksud dari perkataan Mushannif dalam Nadzom “…dan mereka Ulama Nahwu sama menghukumi Mu’rob terhadap Fi’il Mudhari’ apabila sepi dari Nun Taukid yang Mubasharah dan Nun Jamak Muannats…”.

Walhasil, dari apa yang tersirat dari Bait Syair Mushannif, bahwa apabila Fi’il Mudhori tidak sepi dari Nun Taukid yang Mubasharah dan Nun Jamak Muannats, maka hukumnya Mabni. Ini merupakan pendapat Madzhab Jumhur Ulama Nahwu.

Menurut Madzhab Imam Akhfasy, bahwa Fi’il Mudhori’ yg bersambung dengan Nun Taukid baik Mubasyaroh atau tidak, tetap dihukumi Mabni. dan sebagian Ulama menukil, bahwa Fi’il Mudhari’ tetap Mu’rab sekalipun bersambung dengan Nun Taukid yg Mubasharah.

Adapun Fi’il Mudhori’ yang tersambung dengan Nun Jamak Mu’annats, hukumnya Mabni tanpa khilaf, ini menurut tukilan Kiyai Mushannif pada sebagian Kitab-Kitabnya. Akan tetapi tidaklah demikian, bahkan Khilaf tetap ada dalam hal ini. sebagaimana pendapat Ulama yang ditukil oleh Ustadz Abul Hasan bin ‘Ashfur dalam Kitabnya Syarah Al-Idhah.

وَكُلُّ حَـرْفٍ مُسْتَــحِقٌّ لِلْبِنَا ¤ وَالأَصْلُ فِي الْمَبْنِيِّ أَنْ يُسَكَّنَا

Semua Kalimah Huruf menghaki terhadap Mabni. Asal didalam Kemabnian adalah dihukumi Sukun.

وَمِنْهُ ذُو فَتْحٍ وَذُو كَسْرٍ وَضَمُّ ¤ كَأَيْنَ أَمْسِ حَيْثُ وَالْسَّــــاكِنُ كَمْ

Diantara bentuk Mabni adalah Mabni Fathah, Mabni Kasroh dan Mabni Dhommah. Seperti lafadz: Aina, Amsi, Haitsu, dan Mabni Sukun seperti Lafadz Kam.

Semua Kalimah Harf/Huruf (الحرف) adalah Mabni. Dalam hal ini, kemabnian kalimah huruf tidak membutuhkan terhadap pelaksanaan I’rob untuk memahami makna-makna yang terkandung daripadanya pada suatu susunan kalimat, tidak sebagaimana Kalimah Isim. Contoh:

أَخَذْتُ مِنَ الدَّرَاهِمِ

Aku telah mengambil sebagian dari Dirham-dirham itu.

Pengertian makna “sebagian” (التبعيض) dari Kalimah Huruf “Min” (من) pada contoh diatas, terfaidah tanpa membutuhkan pelaksanaan I’rob.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha.

Pengertian makna “batas permulaan” (ابتداء الغاية) pada Kalimah Huruf “Min” (من) dan pengertian makna “batas akhiran” pada Kalimah Huruf “Ila” (إلى) dalam contoh ayat diatas, terlaksana tanpa membutuhkan terhadap I’rob.

Bentuk Mabni adalah tetapnya akhir kalimah pada satu bentuk keadaan. Bentuk Mabni ada empat macam:

1. Mabni Sukun.
Mabni sukun adalah bentuk asal Mabni. Karena merupakan paling ringannya syakal. Oleh karena itu ia bisa masuk pada Kalimah Isim, Kalimah Fi’il dan Kalimah Harf/huruf. contoh: اُكْتُبْ – كَمْ – مِنْ

سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُمْ مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ

Tanyakanlah kepada Bani Israil: “Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka.”

Kalimah Mabni ini tidak akan berharakah kecuali untuk mengantisipasi bertemunya dua huruf mati. Contoh:
Diberi harakah kasroh

قَالَتِ امْرَأَتُ الْعَزِيزِ

Berkata isteri Al Aziz

Diberi harakah dhommah

هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ

Mereka orang-orang yang mengatakan…

Diberi harakah fathah

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian

2. Mabni fathah
Harkat fathah merupakan paling dekatnya harkat terhadap Sukun, oleh karena itu ia juga masuk kepada kalimah Isim, Fi’il dan Huruf. contoh: كَيْفَ – قَامَ – وَ

الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا

Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan.

3. Mabni Kasrah
Masuk kepada kalimah Isim dan kalimah Huruf, tidak masuk kepada kalimah Fi’il contoh:

هَا أَنْتُمْ أُولاَءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلاَ يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya.

4. Mabni Dhommah
Juga masuk kepada Kalimah Isim dan Kalimah Huruf, tidak masuk kepada Kalimah Fi’il. Seperti حَيْثُ (Kalimah Isim) dan مُنْذُ (Huruf Jarr). Sedangkan Harakah Dhommah pada akhir Kalimah Fi’il Madhi pada contoh اَلطُّلاَّبُ حَضَرُوا Bukanlah Harakah asli, namun ia adalah Harakah pengganti untuk memantaskan pada huruf Wau.

Mabni membuang Huruf Illah termasuk pada mabni sukun, karena ia pengganti dari mabni sukun.

وَالْرَّفْعَ وَالْنَّصْبَ اجْعَلَنْ إعْرَابَا ¤ لاسْــمٍ وَفِــعْــلٍ نَحْـوُ لَنْ أَهَـــــابَا

Jadikanlah Rofa’ dan Nashab sebagai I’rab (sama bisa) untuk Isim dan Fi’il, seperti lafadz Lan Ahaba.

وَالاسْمُ قَدْ خُصِّصَ بِالْجَرِّ كَمَا ¤ قَــدْ خُصِّصَ الْفِعْـلُ بِأَنْ يَنْـجَزِمَا

Kalimah Isim dikhususi dengan I’rab Jarr, sebagaimana juga Fi’il dikhususi dengan dii’rab Jazm.

Pengertian I’rab / I’rob (الإعراب) dalam Ilmu Nahwu adalah: Bekas secara Zhahiran atau Taqdiran yang terdapat pada akhir Kalimah disebabkan oleh pengamalan Amil. Contoh:

جَاءَ زَيْدٌ – رَأَيْتُ زَيْدًا – مَرَرْتُ بِزَيْدٍ

جَاءَ الْفَتَى – رَأَيْتُ الْفَتَى – مَرَرْتُ بِالْفَتَى

I’rob Zhahir/terang : adalah bekas akhir kalimah, tidak ada penghalang yang mencegah dalam mengucapkannya. Contoh: زَيْدٌ – زَيْدًا – زَيْدٍ pada contoh susunan kalimat diatas.

I’rab Taqdir/kira-kira : Adalah bekas akhir kalimah, terdapat penghalang yang mencegah dalam melafalkannya. Baik penghalang tersebut karena Udzur semisal جَاءَ الْفَتَى, atau karena berat semisal جَاءَ الْقَاضِيْ, atau karena demi kesesuaian semisal جَاءَ اَبِيْ.

Macam-macam I’rab ada empat:

  1. Raf’a / Rofa’ (الرفع) masuk kepada Kalimah Isim dan Kalimah Fi’il (الاسم و الفعل)
  2. Nashb / Nashob (النصب) masuk kepada Kalimah Isim dan Kalimah Fi’il (الاسم و الفعل)
  3. Jarr / jar (الجر) masuk kepada Kalimah Isim (الاسم)
  4. Jazm / Jazem (الجزم) masuk kepada Kalimah Fi’il (الفعل)

فَارْفَعْ بِضَمَ وَانْصِبَنْ فَتْحَاً وَجُرْ ¤ كَسْــــــرَاً كَــذِكْرُ اللَّهِ عَبْــدَهُ يَسُـرْ

Rofa’kanlah olehmu dengan tanda Dhommah, Nashabkanlah! Dengan tanda Fathah, Jarrkanlah! Dengan tanda Kasrah. Seperti lafadz Dzikrullahi ‘Abdahu Yasur.

وَاجْزِمْ بِتَسْكِيْنٍ وَغَيْرُ مَا ذُكِرْ ¤ يَنُــوْبُ نَحْوُ جَا أَخْــو بَنِي نَمِــرْ

Dan Jazmkanlah! Dengan tanda Sukun. Selain tanda-tanda yang telah disebut, merupakan penggantinya. Seperti lafadz: Jaa Akhu Bani Namir


Bait ini menerangkan bahwa asal-asal I’rab ditandai dengan Harkah dan Sukun. Maka asal tanda Rafa’ adalah Dhammah (َ), tanda asal Nashab adalah Fathah (َ), tanda asal Jar adalah Kasrah (ِ) dan tanda asal Jazm adalah Sukun (ْ). Dengan demikian apabila ada kalimah yang tidak kebagian tanda i’rob asal (Harkah atau Sukun), maka bagiannya adalah tanda i’rab Pengganti Asal (Bisa juga Harkah, Huruf atau membuang Huruf).

Contoh Tanda I’rab asal, sebagaimana tertulis pada Bait di atas:

ذِكْرُ اللهِ عَبْدَهُ يَسُرّ

Lafadz ذِكْرُ Rofa’ dengan Dhommah, lafazh اللهِ Jar dengan Kasroh dan lafazh عَبْدَ Nashob dengan Fathah.

Tanda I’rab pengganti adalah sbb:

  • Menggantikan Dhammah tanda asal Rafa’ yaitu: Wau, Alif dan Nun (و, ا, ن)
  • Menggantikan Fathah tanda asal Nashab yaitu: Alif, Ya’, Kasrah, dan membuang Nun (ا, ي, ِ, حذف النون)
  • Menggantikan Kasrah tanda asal Jar yaitu: Ya’ dan Fathah (ي, َ)
  • Menggantikan Sukun tanda asal Jazm yaitu: membuang huruf.

Dengan demikian I’rob Rofa’ mempunyai empat tanda, I’rob Nashob mempunyai lima tanda, I’rob Jar mempunyai tiga tanda dan I’rob Jazm mempunyai dua tanda. Jadi keseluruhan tanda i’rob adalah 14 tanda, 4 tanda asal dan 10 tanda pengganti asal.

Contoh Tanda I’rab pengganti, sebagaimana tertulis pada Bait di atas:

جَا أَخُو بَنِى نَمِرْ

Lafazh أَخُو Rofa’ dengan Wau pengganti Dhommah dan Lafazh بَنِى Jar dengan Ya’ pengganti Kasroh.

وَارْفَعْ بِــوَاوٍ وَانْصِبَنَّ بِالأَلِفْ ¤ وَاجْرُرْ بِيَاءٍ مَا مِنَ الأَسْمَا أَصِفْ

Rofa’kanlah dengan Wau, Nashabkanlah dengan Alif, dan Jarrkanlah dengan Ya’, untuk Isim-Isim yang akan aku sifati sebagai berikut (Asmaus Sittah):…

Bait Alfiyah ke 27 ini, menerangkan tentang I’rab Pengganti bagian pertama, sebagai pengganti dari Irab asal. Yaitu kalimah yang dii’rab dengan Huruf (wau-alif-ya’) pengganti dari i’rab harkah (dhammah-fathah-kasrah) demikianlah yang masyhur di kalangan Ahli Nahwu. Namun yang benar menurut mereka adalah bahwa status kalimah tsb, tetap dii’rob dengan Harkah secara taqdiran/dikira-kira artinya: Rofa’ dengan Dhommah yang dikira-kirakan atas Wau, Nashab dengan Fathah yang dikira-kirakan atas Alif dan Jar dengan Kasrah yang dikira-kirakan atas Ya’. Merupakan I’rab yang berlaku pada Asmaaus-Sittah/الأسماء الستة (Kalimah Isim/kata benda yang enam) yaitu: أبٌ، أخٌ، حمٌ، فمٌ، هنٌ، ذُو .

Maka kalimah-kalimah ini dirafa’kan dengan Wau sebagai pengganti dari Dhammah. Contoh:

وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.

Dinashabkan dengan Alif pengganti dari Fathah. Contoh:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya

Dijarkan dengan Ya’ pengganti dari Kasrah. Contoh:

ارْجِعُوا إِلَى أَبِيكُمْ

Kembalilah kepada ayahmu

مِنْ ذَاكَ ذُو إِنْ صُحْبَةً أَبَانَا ¤ وَالْفَــــــمُ حَيْثُ الْمِيْمُ مِنْهُ بَانَا

 

Diantara Isim-Isim itu (Asmaus Sittah) adalah Dzu jika difahami bermakna Shahib (yg memiliki), dan Famu sekiranya Huruf mim dihilangkan darinya.

 

 

Termasuk pada Asmaus-Sittah atau Isim-isim yang tanda rafa’nya dengan wawu (و), tanda nashabnya dengan alif (ا) dan tanda jar-nya dengan ya’ (ي),  yaitu Dzu (ذو) dan Famun (فم).

 

Persyaratan lafazh Dzu (ذو) yang tergolong pada Asmaus-Sittah adalah Dzu (ذو) yg difahami makna Shahib/الصاحب (Si empunya/pemilik). Contoh:

 

جَائَنِيْ ذُوْ مَالٍ

 

Si Hartawan datang kepadaku.

 

وَاللهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

 

Dan Allah mempunyai karunia yang besar

 

Itulah maksud dalam Bait Syair diatas “adalah Dzu jika difahami bermakna Shahib” untuk membedakan dengan Dzu (ذو) Isim Maushul (sering digunakan oleh kaum Thayyi’) karena Dzu (ذو) Isim Maushul ini, tidak mempunyai makna si pemilik, tapi ia memiliki makna seperti الذي . hukum Dzu Isim Maushul ini Mabni. Artinya tetap dalam satu bentuk ذو baik keadaan rafa’, nashab dan jar-nya. Contoh:

 

جَاءَنِيْ ذُوْ قَامَ , رَأيْتُ ذُو قَامَ , مَرَرْتُ بِذُو قَامَ

 

Dia yang berdiri mendatangiku, Aku melihat dia yang berdiri, Aku bertemu dengan dia yang berdiri.

 

Sebagaimana contoh dalam syair arab

 

فَإِمَّـا كِرَامٌ مُوسِرُونَ لَقِيتُـهُمْ ¤ فَحَسْبِيَ مِنْ ذُو عِنْدَهُمْ مَا كَفَانِيَا

 

Adapun mereka yang mulia lagi mudah hidupnya (kaya), bilamana aku menemuinya, maka cukuplah bagiku kemurahan yang ada padanya itu dalam melayaniku (sebagai tamu) .

 

Demikian juga disyaratkan pada lafazh Famun (فم) dalam I’rob Asmaus-Sittah yaitu Huruf mim harus dihilangkan daripadanya. Contoh:

 

هَذَا فُوْهُ, رَأيْتُ فَاهُ, نَظَرْتُ إلىَ فِيْهِ

 

Ini mulutnya, aku lihat mulutnya, aku memandang kepada mulutnya.

 

Apabilah Huruf Mimnya tidak dihilangkan daripadanya maka di-I’rob dengan Harkah. Contoh:

 

هَذَا فَمٌ, رَأيْتُ فَمًا, نَظَرْتُ إلىَ فَمٍ

 

Ini mulut, aku lihat mulut, aku memandang kepada mulut.

أَبٌ آخٌ حَـــمٌ كَـــذَاكَ وَهَـــنُ ¤ وَالْنَّقْصُ فِي هذَا الأَخِيْرِ أَحْسَنُ

 

Juga Abun, Akhun, Hamun, demikian juga Hanu. Tapi dii’rab Naqsh untuk yang terakhir ini (Hanu) adalah lebih baik.

 

وَفِي أَبٍ وَتَـالِيَيْهِ يَنْـــدُرُ ¤ وَقَصْرُهَا مِنْ نَقْصِهِنَّ أَشْهَرُ

 

Dan untuk Abun berikut yang mengiringinya (Akhun dan Hamun) jarang diri’rab Naqsh, sedangkan dii’rab Qoshr malah lebih masyhur daripada I’rab Naqshnya.

 

Abun, Akhun, Hamun dan Hanu (اب، أخ، حم dan هن), termasuk golongan Asma al-Sittah yang berlaku tanda I’rob: Rofa’ denga Wawu, Nashob dengan Fathah dan Khofadh/Jarr dengan Ya’, sebagaimana I’rob Dzu dan Famun yang telah disebutkan pada Bait sebelumnya.

 

I’RAB ITMAM, QASHR ATAU NAQSH UNTUK (اب، أخ، حم)

 

Menurut lughoh/logat/aksen yang masyhur dikalangan orang Arab, menjadikan tanda I’rab Asmaus-sittah untuk lafazh (اب، أخ، حم) terkenal dengan di-i’rab Itmam (Sempurna, menyertakan huruf illah (و-ا-ي) sebagai tanda I’rabnya).

 

Contoh:

 

هَذَا أَبُوْهُ وَأَخُوْهُ وَحَمُوْهَا

 

Ini Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

 

رَأَيْتُ أَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا

 

Aku melihat Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

 

مَرَرْتُ بِأَبِيْهِ وَأَخِيْهِ وَحَمِيْهَا

 

Aku berpapasan dengan Ayahnya/Saudaranya/mertuanya.

 

Selanjutnya Ibnu Malik mensyairkan dalam Bait Syairnya “Dan untuk Abun berikut yang mengiringinya (Akhun dan Hamun) jarang diri’rab Naqsh, sedangkan dii’rab Qoshr malah lebih masyhur daripada I’rab Naqshnya.” Menunjukkan ada dua aksen lagi untuk ketiga Kalimah dari Asmaus-Sittah tsb (اب، أخ، حم).

 

Pertama: Naqsh (cacat/kurang) yaitu dengan membuang wawu, alif dan ya’ atau dengan di-irab harakah zhahir.

 

Contoh:

 

هَذَا أَبُهُ وَأَخُهُ وَحَمُهَا

 

Ini Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

 

رَأَيْتُ أَبَهُ وَأَخَهُ وَحَمَهَا

 

Aku melihat Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

 

مَرَرْتُ بِأَبِهِ وَأَخِهِ وَحَمِهَا

 

Aku berpapasan dengan Ayahnya/Saudaranya/mertuanya.

 

Sebagaimana Syair Arab oleh Ru’bah bin Ajjaj dalam bahar rojaz musaddas:

 

بِأَبِهِ اقْتَدَى عَدِىٌّ في الْكَرَمْ ¤ وَمَنْ يُشَابِهْ أَبَهُ فَمَا ظَـلَمْ

 

Shahabah Adi (Shahabah Nabi, Adi bin Hatim ra.) mengikuti jejak ayahnya dalam hal kemuliaan. Maka siapa saja yg mengikuti jejak ayahnya, ia tidak zhalim.

 

Aksen/logat seperti pada contoh syair diatas jarang ditemukan untuk lafazh (اب، أخ، حم) artinya jarang di-I’rab Naqsh.

 

Kedua: Qashr (ringkas) yaitu tetap dengan tanda Alif baik pada Rofa’, Nashab dan Jarnya.

 

Atau semua I’rabnya dikira-kira atas Alif dan disebut I’rab Qashr. Sebagaimana I’rab untuk isim-isim Maqshur. Aksen seperti ini, dikalangan orang Arab (tepatnya oleh Bani Harits, Bani Khats’am dan Bani Zubaid) lebih masyhur dipakai daripada I’rab Naqsh.
Contoh:

 

هَذَا أَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا

 

Ini Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

 

رَأَيْتُ أَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا

 

Aku melihat Ayahnya/Saudaranya/mertuanya

 

مَرَرْتُ بِأَبَاهُ وَأَخَاهُ وَحَمَاهَا

 

Aku berpapasan dengan Ayahnya/Saudaranya/mertuanya.

 

Sebagaiman disebutkan dalam Syair Arab yang juga berbahar rojaz :

 

إِنَّ أَبَـاهَــا وَأَبَـا أَبَـاهَــا ¤ قَدْ بَلَغَا فِي المَجْدِ غَايَتَاهَا

 

Sesungguhnya Bapaknya dan bapak bapaknya (leluhurnya), benar-benar telah sampai pada batas kemuliaannya.

 

I’RAB NAQSH ATAU ITMAM UNTUK (هن )

 

Sedangkan untuk lafazh Hanu (هن), maka yang fasih adalah dengan tanda I’rab harakah secara zhahir. Sebagaimana dalam Bait disebutkan “Tapi dii’rab Naqsh untuk yang terakhir ini (Hanu) adalah lebih baik” maksudnya untuk lafazh Hanu lebih baik di-I’rab Naqsh (Cacat/kurang, tanpa menyertakan huruf illah (و-ا-ي) sebagai tanda I’rabnya) Contoh:

 

هَذَا هَنُ زَيْدٍ وَرَأَيْتُ هَنَ زَيْدٍ وَمَرَرْتُ بِهَنِ زَيْدٍ

 

Ini anunya Zaid, aku melihat anunya Zaid, aku lewat berpapasan dengan anunya Zaid.

 

هن (hanu) sebutan/kinayah untuk suatu yg jelek menyebutnya, ada mengartikan kemaluan, ada juga mengartikan sosok manusia dsb, tergantung konteks kalimat. Contoh Lafadz Hanu yg terdapat dalam Hadits, Rosulullah saw. Bersabda:

 

مَنْ تَعَزَّى بِعَزَاءِ الْجَاهِليَّةِ فَأَعِضُّوهُ بِهَنِ أَبِيْهِ وَلاَ تَكْنُوْا

 

Barang siapa bangga menisbatkan/menjuluki dirinya dengan penisbatan Jahiliyah, maka gigitkanlah ia pada anunya bapaknya (istilah Indonesia: kembalikan ke rahim ibunya). Dan janganlah kalian memanggil dengan julukan itu!.

 

Contoh di-I’rob Itmam yang jarang dipakai untuk lafazh Hanu:

 

هَذَا هَنُوْهُ وَرَأَيْتُ هَنَاهُ وَنَظَرْتُ إلَى هَنِيْهِ

 

Ini Anunya. Aku melihat Anunya. Aku memandang pada Anunya.

 

Pendapat Imam Abu Zakariya Al-Farra’ beliau mengingkari terhadap kebolehan I’rab Itmam untuk lafazh “Hanu”, namun ini ditangkis oleh hujah Imam Sibawaehi dengan hikayah orang-orang Arab yang meng-itmamkan lafazh “Hanu” tsb. Demikian juga hujah para Ulama nahwu lain yang memelihara terhadap aksen Bahasa Arab tentang Hanu dengan di-Itmam.

 

Kesimpulan pembahasan: bahwa lafazh (اب، أخ، حم) terdapat tiga aksen/logat. Yang paling masyhur adalah di-I’rab Itmam, kemudian di-I’rab Qashr, dan terakhir paling jarang digunakan dii’rab Naqsh. Dan untuk lafazh (هن) terdapat dua aksen/logat, paling masyhur dengan I’rab Naqsh dan paling jarang dii’rab Itmam.

وَشَرْطُ ذَا اْلإعْرَابِ أَنْ يُضَفْنَ لاَ ¤ لِلْيَــا كَــجَا أَخُــوْ أَبِيْـــكَ ذَا اعْـــتِلاَ

 

Syarat I’rob ini (I’rob Asmaus-Sittah) yaitu harus di mudhaf-kan, tidak mudhof kepada Ya’ Mutakallim. Seperti contoh: “Jaa akhuu abiika dza’tilaa”.

 

Para Ahli Nahwu menentukan empat syarat untuk Asmaus-Sittah yang dii’rab dengan Huruf. yaitu:

 

 

 

 

 

 

 1. Harus mudhaf, dipilihnya syarat ini untuk menjaga daripada yang tidak mudhof, karena yang demikian akan di-i’rob dengan harokah zhohir. Contoh:

 

هَذَا أَبٌ وَرَأَيْتُ أَبًا وَمَرَرْتُ بِأَبٍ

Ini seorang bapak, aku melihat seorang bapak, aku berjumpa dengan seorang bapak.

 

 

إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا

 

sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya

 

وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ

 

baginya seorang saudara laki-laki atau seorang saudara perempuan

 

قَالَ ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ

 

ia berkata: “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin)..

 

2. Tidak Mudhaf pada Ya’ Mutakallim. Contoh:

 

هَذَا أَبُوْ زَيْدٍ وَأَخُوْهُ وَحَمُوْهُ

 

Ini ayah Zaid/saudaranya/mertuanya.

 

Sedangkan apabila mudhaf kepada ya’ mutakallim, maka dii’rab dengan harakah muqaddar/dikira-kira pada huruf terakhir sebelum ya’ mutakallim. Contoh:

 

هَذَا أَبِيْ وَرَأَيْتُ أَبِيْ وَمَرَرْتُ بِأَبِيْ

 

Ini adalah bapakku, aku melihat bapakku, aku berpapasan dengan bapakku.

 

وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا

 

Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku

 

إِنَّ هَذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ

 

sungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja.

 

فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا

 

lalu letakkanlah dia kewajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali

 

3. Harus bershighat mukabbar (مكبر), dipilihnya syarat ini untuk menjaga dari shigat mushaghghar (مصغر)/memperkecil, karena yang dimikian ini dii’rab dengan harkah zhahir. Contoh:

 

هَذَا أُبَيُّ زَيْدٍ وَذُوَيُّ مَالٍ

 

Ini adalah bapak-kecilnya Zaid dan si hartawan yunior

 

وَرَأَيْتُ أُبَيَّ زَيْدٍ وَذُوَيَّ مَالٍ

 

Aku melihat bapak-kecilnya Zaid dan si hartawan yunior

 

ومررت بِأُبَيِّ زَيْدٍ وَذُوَيِّ مَالٍ

 

Aku berpapasan dengan bapak-kecilnya Zaid dan si hartawan yunior

 

4. Harus Mufrad (tunggal), dipilihnya syarat ini, untuk menjaga dari bentuk Jamak, karena yang demikian ini dii’rab dengan harkah zhahir. Contoh:

 

هَذَا آبَاءُهُمْ وَرَأَيْتُ آبَاءَهُمْ وَمَرَرْتُ بِآبَائِهِمْ

 

Ini adalah bapak-bapak mereka, aku melihat bapak-bapak mereka, aku berpapasan dengan bapak-bapak mereka.

 

آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا

 

(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu.

 

Atau untuk menjaga dari bentuk dual, karena yang demikian ini dii’rab dengan tanda Alif ketika rofa’/Ya’ ketika Jar dan Nashab. Contoh:

 

هَذَانِ أَبَوَا زَيْدٍ وَرَأَيْتُ أَبَوَيْهِ وَمَرَرْتُ بِأَبَوَيْهِ

 

Ini adalah kedua orang tua  zaid, aku melihat kedua orang tua zaid, aku berpapasan dengan kedua orang tua zaid.

 

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ

 

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana

 

Tidak disebutnya empat syarat diatas oleh Mushannif Alfiyah, kecuali dua syarat pertama, sedangkan dua syarat sisanya sudah tersirat dalam contoh pada bait diatas, yaitu dengan contoh Mukabbar dan Mufrad

 

كَجَا أخُو أبِيكَ ذَا اعْتِلاَ

 

Telah datang saudara ayahmu yang berpangkat tinggi itu.

 

Dan perlu diketahui bahwa penggunaan Lafadz Dzu ذو Asmaus-sittah selamanya harus mudhaf karena ia tidak pernah digunakan kecuali mudhaf, dan mudhafnya tertentu kepada Isim Jenis yang zhahir, bukan Dhamir atau Shifat. Contoh:

 

جَاءَ نِيْ ذُوْ مَالٍ

 

Si hartawan datang padaku

 

Tidak boleh melafalkan:

 

جَاءَنِيْ ذُوْ قَائِمٍ

بِالأَلِفِ ارْفَع الْمُثَنَّى وَكِلاَ ¤ إذَا بِمُـــضْمَرٍ مُضَــافَاً وُصِلاَ

 

Rofa’-kanlah! dengan tanda Alif terhadap Isim Mutsanna, juga lafadz Kilaa apabila tersambung langsung dengan Dhamir, dengan menjadi Mudhaf.

 

كِلْتَا كَذَاكَ اثْنَانِ وَاثْنَتَانِ ¤ كَابْنَــيْنِ وَابْنَتَيْــنِ يَجْــرِيَانِ

 

Juga (Rofa’ dg tanda Alif) lafadz Kiltaa, begitupun juga lafadz Itsnaani dan Itsnataani sama (I’rob-nya) dengan lafadz Ibnaini dan Ibnataini keduanya contoh yang di jar-kan.

 

وَتَخْلُفُ الْيَا فِي جَمِيْعِهَا الأَلِفْ ¤ جَــــرًّا وَنَصْـــبَاً بَعْدَ فَتْـــحٍ قَدْ أُلِفْ

 

Ya’ menggantikan Alif (tanda Rofa’) pada semua lafadz tsb (Mutsanna dan Mulhaq-mulhaqnya) ketika Jar dan Nashab-nya, terletak setelah harakah Fathah yang tetap dipertahankan.

 

Kitab Hasyiyah Al-Khudhari penjelasan Syarah Ibnu ‘Aqil

 

Telah disebutkan sebelumnya tanda I’rab dengan huruf sebagai pengganti dari I’rab Harakah yaitu pada Asmaus-Sittah. Selanjutnya pada Bait ini, Kiyai Mushannif Ibnu Malik menerangkan tentang I’rab pengganti asal bagian kedua, yaitu untuk tanda I’rob Isim Mutsanna (Kata benda dual) dan Muhaqnya (Isim yang diserupakan Isim Tatsniyah/Mutsanna).

 

Definisi Isim Tatsniyah/Mutsanna dalam ilmu nahwu dan Sharaf adalah: Satu lafazh kalimah yg menunjukkan dua buah objek, dikarenakan ada penambahan huruf zaidah di akhirnya, dapat dibentuk mufrad/tunggal beserta dapat dipisah dan diathafkan terdiri dari dua lafazh yang sama. Contoh Isim Tatsniyah:

 

زَيْدَانِ, ضَرْبَانِ, مُسْلِمَانِ

 

Dua Zaid, dua pukulan, dua orang Muslim.

 

4 macam kategori lafazh kalimah tidak bisa dikatakan Isim Tatsniyah/Mutsanna:

 

1. Lafazh menunjukkan dua objek, tapi bukan sebab huruf tambahan. Contoh:

 

شَفْعٌ

 

Sepasang

 

2. Lafazh ada tambahan huruf zaidah semisal Isim Tatsniyah, tapi tidak menunjukkan dua objek. Contoh:

 

  • Menunjukkan Mufrad/tunggal dari isim sifat:

 

رَجْلاَنُ، رَحْمَانُ، شَبْعَانُ، جَوْعَانُ، سَكْرانُ، نَدْمَانُ

 

Pejalan kaki, pengasih, yang kenyang, yang lapar, yang mabuk, tukang minum.

 

  • Menunjukkan Mufrad/tunggal dari isim alam / nama:

 

عُثْمَانُ، عَفَّانُ، حَسَانُ

 

Utsman, ‘Affan, Hasan

 

  • Menunjukkan Jamak dari jama’ taksir:

 

صِنْوَانٌ, غِلْمَانٌ, صِرْدَانٌ, رُغْفَانٌ, جُرْذَانٌ

 

Saudara-saudara sekandung, anak-anak muda, kumpulan burung-burung sejenis, adonan-adonan roti/keju, kumpulan tikus-tikus.

 

Masing-masing ketiga jenis contoh-contoh kalimah diatas di-I’rab dengan Harkah Zhahir pada Nun shighah bukan Nun maqom tanwin, sedangkan Alifnya adalah Lazim pada semua I’rabnya.

 

3. Lafazh menunjukkan dua buah tapi tidak dapat dimufrodkan/tunggal. Contoh:

 

اثْنَانِ

 

Dua

 

Tidak bisa dimufrodkan atau tidak bisa membuang huruf zaidah atau tidak bisa dilafalkan اثْنٌ.

 

4. Lafazh menunjukkan dua buah objek, ada tambahan huruf zaidah, bisa dimufrodkan/tunggal, bisa dipisah berikut diathafkan tapi bukan terdiri dari dua lafazh yang sama. Contoh sebagaimana orang arab mengatakan:

 

القَمَرَيْنِ

 

Dua planet yg menyinari bumi

 

Karena setelah dipisah dan di-athafkan menjadi الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ

 

اَبَوَيْنِ

 

Dua orang tua.

 

Karena setelah dipisah dan di-athafkan menjadi الأَبُ والأُمُّ

 

Tanda I’rob Isim Mutsanna/Tatsniyah

 

Tanda I’rob untuk Isim Mutsanna adalah Rofa’ dengan huruf Alif sebagai ganti dari I’rob asal harakah Dhammah, Nashab dengan Huruf Ya’ sebagai ganti dari Fathah juga Jar dengan huruf Ya’ sebagai ganti dari Kasroh. Contoh:

 

قَالَ رَجُلاَنِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا

 

Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya.

 

فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلاَنِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ

 

didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun).

 

قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا

 

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur).

 

Demikianlah I’rob Isim Tatsniyah menurut sebagian besar logat orang Arab. Dan sebagian lain (logat bani Kinanah, Bani Harits bin Ka’ab, bani ‘Ambar, bani Bakar bin Wa’il, bani Zubaid, bani Kats’am, bani Hamdan, bani ‘Udzrah) mengamalkan Isim Mutsanna dan Mulhaqnya dengan tanda Alif secara muthlaq; baik rofa’, nashab dan jarnya. contoh:

 

جَاءَ الزَّيْدَانِ كِلاَهُمَا– رَأَيْتُ الزَّيْدَانِ كِلاَهُمَا– مَرَرْتُ بِالزَّيْدَانِ كِلاَهُمَا

 

Dua Zaid telah datang kedua-duanya – Aku melihat dua Zaid kedua-duanya – Aku bertemu dengan dua Zaid kedua-duanya.

 

Demikian juga sebagian Qiraah membaca Inna ditasydid pada Ayat:

 

قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ

 

Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir…”

 

Nabi bersabda:

 

لاَ وِترَانِ فِي لَيْلَةٍ

 

Tidaklah dua Witir dalam satu malam.

 

Tanda I’rob Muhaq kepada Isim Mutsanna/Tatsniyah

 

Termasuk juga untuk I’rob Isim yang diserupakan atau di-mulhaq-kan dengan Isim Mutsanna atau dikenal dengan sebutan Mulhaq Mutsanna, yaitu setiap isim/kata benda yang kurang mencukupi syarat definisi Isim Mutsanna. Di antara isim-isim mulhaq tsb. Sebagaimana disebutkan dalam bait adalah:

 

Kilaa dan kiltaa (كِلاَ وكِلْتَا), dengan prosedur sbb:

 

1. Diberlakukan seperti I’rab Isim Mutsanna, apabila Mudhaf pada Isim Dhamir. Contoh:

 

جَاءَنِيْ كِلاَهُمَا وَرَأَيْتُ كِلَيْهِمَا وََمَرَرْتُ بِكِلَيْهِمَا

 

Keduanya (male) mendatangiku, Aku melihat keduanya, Aku bertemu dengan keduanya

 

وَجَاءَتْنِيْ كِلْتَاهُمَا وَرَأَيْتُ كِلْتَيْهِِمَا وَمَرَرْتُ بِكِلْتَيْهِمَا

 

Keduanya (female) mendatangiku, Aku melihat keduanya, Aku bertemu dengan keduanya

 

العِلْمُ وَالعَمَلُ كِلاَهُمَا مَطْلُوْبٌ

 

Ilmu dan Amal, kedua-duanya dituntut.

 

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ

 

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”

 

2. Diberlakukan seperti I’rab Isim Maqshur (tetap menggunakan Alif, pada Rafa’/Nashab/Jar). Apabila Mudhaf pada Isim Zhahir. Contoh:

 

جَائَنِيْ كِلاَ الرَّجُلَيْنِ وَكِلْتَا الْمَرْأَتَيْنِ وَرَأَيْتُ كِلاَ الرَّجُلَيْنِ وَكِلْتَا الْمَرْأَتَيْنِ وَمَرَرْتُ بِكِلاَ الرَّجُلَيْنِ وَكِلْتَا الْمَرْأَتَيْنِ

 

Datang kepadaku kedua pria dan kedua wanita itu. Aku melihat kedua pria dan kedua wanita itu. Aku berjumpa dengan kedua pria dan kedua wanita itu.

 

كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا

 

Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya

 

Itsnaani dan Itsnataaani (اثْنَانِ واثْنَتَانِ), dengan prosedur sbb:

 

Diberlakukan Hukum I’rab seperti Isim Mutsanna tanpa syarat, sebagaimana contoh Isim Mutsanna/Tatsniyah lafazh Ibnaani dan Ibnataani (ابْنَانِ وابْنَتَانِ). Contoh:

 

حَضَرَ مِنَ الضُّيُوْفِ اثْنَانِ

 

Telah hadir dua orang dari tamu-tamu itu.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا شَهَادَةُ بَيْنِكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ حِينَ الْوَصِيَّةِ اثْنَانِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ

 

Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu…

 

Kesimpulan penjelasan Bait: Isim Mutsanna/Tatsniyah di rofa’-kan dengan Alif, demikian juga Kilaa dan Kiltaa dengan syarat mudhaf dan mudhaf ilaih-nya harus isim dhamir. Sedangkan itsnaani dan itsnataani diberlakukan seperi Isim Mutsanna sebagaimana Ibnaani dan ibnataani. Adapun ketika dalam keadaan Nashab atau Jar, maka tanda irob-nya adalah Ya’ menempati tempatnya Alif ketika Rofa’. Semua tanda irab Isim Mutsanna dan mulhaq-nya jatuh sesudah harakah Fathah, karena fathah ini biasa berlaku untuk alif Tatsniyah. Maka tetap dipertahankan ketika bersama dengan Ya’.

وَارْفَعْ بِوَاوٍ وَبِيَا اجْرُرْ وَانْصِبِ ¤ سَــــــــالِمَ جَمْعِ عَــــــــامِرٍ وَمُذْنِبِ

 

Rafa’kanlah dengan Wau!, Jar-kan dan Nashabkanlah dengan Ya’! terhadap Jama’ Mudzakkar Salim dari lafadz “‘Aamir” dan “Mudznib”

 

Telah disebutkan sebelumnya, dua bagian yang dii’rab dengan huruf pengganti I’rab asal yaitu Asmaus-Sittah dan Isim Mutsanna. Kemudian pada Bait ini Mushannif menyebut bagian ketiga tanda I’rab dengan Huruf untuk Jama’ Mudzakkar Salim berikut mulhaq-mulhaqnya yang akan disebut pada bait-bait selanjutnya. Yaitu tanda I’rab dengan Wau ketika Rafa’ dan dengan Ya’ ketika Nashab atau Jar-nya. Contoh:

 

أَفْلَحَ الآمِرُوْنَ بِالْمَعْروْفِ

 

Beruntunglah mereka yang memerintah dengan ma’ruf.

 

شَجِعْتُ الآمِرِيْنَ بِاْلمَعْرُوْفِ

 

Aku memberi motifasi kepada pemerintah-pemerintah dengan ma’ruf.

 

سَلَّمْتُ عَلَى الآمِرِيْنَ بِالْمَعْرُوْفِ

 

Aku memberi salam untuk mereka yang memerintah kepada yang ma’ruf.

 

Definisi Jamak Mudzakkar Salim adalah: Isim yang menunjukkan arti lebih dari dua dengan sebab tambahan huruf di akhirnya, dapat di-mufrad-kan dan di-athaf-kan berupa lafazh yang sama. Contoh:

 

فَرَحَ الْفَائِزُوْنَ

 

Bergembiralah orang-orang yang sukses.

 

Maka contoh kalimah isim diatas menunjukkan arti lebih dari dua, sebab huruf zaidah di akhirnya berupa wawu dan nun, dapat dipisah dibentuk mufrad (tunggal) dengan membuang huruf zaidah menjadi فائز berikut di-athaf-kan terdiri dari lafazh yang sama, maka menjadi جاء فائز وفائز آخر.

 

Maksud perkataan السالم “Salim” adalah selamat atau tidak berubah bentuk mufrad-nya ketika dibuat bentuk Jamak. artinya, tetap langgeng  lafazh mufrad –nya setelah dibuat Jamak, yakni huruf-hurufnya tidak mengalami perubahan,  baik jenisnya,  jumlahnya atau harkah-nya. kecuali karena ada proses I’lal. Misal المصطفى setelah dibuat jamak mudzakkar salim menjadi المصطفاون karena bertemu dua mati yaitu Alif dan Wau jamak, maka Alif dibuang dan menjadi المُصْطَفَوْنَ

 

Disebutkan pada bait diatas contoh lafazh عامر ومذنب “’Aamir dan Mudznib” menunjukkan bahwa kalimah yang boleh di bentuk jamak dengan Jama’ Mudzakkar Salim ada dua kategori, yaitu Isim Jamid (عامر ) atau Isim Sifat (مذنب) .

 

Disyaratkan untuk Isim Jamid yang dapat di-bentuk jamak dengan jama’ mudzakkar salim dengan 5 syarat:

 

1. Harus berupa Isim Alam / kata nama. Contoh: زيد “Zaid”. خالد “Khalid”. Tidak diperkenankan untuk isim jamid yang bukan isim alam contoh: غلام “anak kecil laki”, رجل “pria dewasa” kecuali jika dishighat tashghir/dibentuk mini, maka boleh karena otomatis menjadi Isim Sifat contoh: رجيل “si pria kecil” dapat dibentuk jama’ mudzakkar salim menjadi رجيلون.

 

2. Harus nama laki-laki, tidak diperkenankan untuk nama perempuan misal: زينب “Zainab” هند “Hindun” سعاد “Su’ad”.

 

3. Harus nama makhluk ber-akal (yakni dari jenis makhluk yang berakal termasuk bayi dan orang gila). Tidak diperkenankan untuk semisal nama hewan لاحق “Lahiq” nama kuda.

 

4. Harus kosong dari Ta’ Muannats Zaidah. Tidak diperkenankan untuk contoh: حمزة “Hamzah” طلحة “Thalhah”.

 

5. Bukan dari Isim Alam hasil Tarkib (berasal dari susunan kata) contoh سيبويه “Sibawaihi”.

 

Contoh Jama’ Mudzakkar Salim dari Isim Alam yang mencukupi Syarat :

 

جَاءَ زَيْدُوْنَ. هَنَأتُ زَيْدِيْنَ. مَرَرْتُ بِزَيْدِيْنَ

 

Zaid-Zaid telah datang. Aku membantu Zaid-Zaid. Aku berjumpa dengan Zaid-Zaid.

 

Disyaratkan untuk Isim Sifat yang dapat di-bentuk jamak dengan jama’ mudzakkar salim dengan 6 syarat:

 

1. Harus sifat bagi laki-laki, tidak diperkenankan seperti contoh: حائض “yang Haid” مرضع “yang menyusui”

 

2. Harus sifat bagi yang berakal, tidak diperkenankan untuk contoh: صاهل “yg meringkik” (sifat kuda)

 

3. Harus kosong dari ta’ muannats, maka tidak diperkenankan seperti contoh علامة “tanda” قائمة “sangga” صائمة “tenang”.

 

4. Bukan Isim sifat dengan wazan أفعل yang muannts-nya adalah فعلاء contoh: أحمر “yang merah” أخضر “yang hijau”.

 

5. Bukan Isim sifat dengan wazan فعلان yang muannts-nya adalah فعلى contoh: سكران “yang mabok”.

 

6. Bukan dari Isim Sifat yang sama bisa ditujukan untuk laki-laki dan atau perempuan contoh: صبور “yang sabar” جريح “yang terluka”

 

Contoh Jama’ Mudzakkar Salim dari Isim Sifat yang mencukupi Syarat :

 

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

 

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah.

 

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

 

Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

 

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

 

Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.

 

Kesimpulan penjelasan bait: Rofa’kanlah dengan wau sebagai ganti dari dhammah, Jar-kanlah dengan Ya’ sebagai ganti dari kasrah, dan Nashab-kan juga dengan Ya’ sebagai ganti dari Fathah. Terhadap Jama’ Mudzakkar Salim dari lafazh ‘Aamir (isim Alam) dan Lafazh Mudznib (isim Sifat).

وَشِبْهِ ذَيْنِ وَبِهِ عِشْرُوْنَا ¤ وَبَابُـــهُ أُلْحِــقَ وَالأَهْــــلُوْنَا

 

….dan yang serupa dengan keduanya ini (“Aamir” dan “Mudznib”, pada bait sebelumnya). Dan lafadz “‘Isyruuna dan babnya”, dimulhaqkan kepadanya (I’rab Jamak Mudzakkar Salim). Juga lafadz “Ahluuna”

 

أوْلُو وَعَالَمُوْنَ عِلِّيّونَا ¤ وَأَرْضُـــوْنَ شَذَّ وَالْسِّـنُوْنَا

 

Juga lafadz “Uluu, ‘Aalamuuna, ‘Illiyyuuna dan lafazh Aradhuuna adalah contoh yang syadz (paling jauh dari definisi Jamak Mudzakkar Salim). Juga Lafadz “sinuuna…..

 

وَبَابُهُ وَمِثْلَ حِيْنٍ قَـدْ يَرِدْ ¤ ذَا الْبَابُ وَهْوَ عِنْدَ قَوْمٍ يَطَّرِدْ

 

.…dan babnya”. Terkadang Bab ini (bab sinuuna) ditemukan dii’rab semisal lafadz “Hiina” (dii’rab harkat, dengan tetapnya ya’ dan nun) demikian ini ditemukan pada suatu kaum (dari Ahli Nawu atau orang Arab)

 

Disebutkan pada awal bait diatas kalimat: “dan yang serupa dengan keduanya ini (“Aamir” dan “Mudznib”, pada bait sebelumnya)” yakni, semua Isim Alam dan Isim shifat yang menggenapi syarat sebagai Jama’ Mudzakkar Salim dimana tanda I’rab-nya dengan wau ketika rafa’ dan dengan ya’ ketika nashab dan jar.

 

Kemudian disebutkan oleh kiyai Mushannif pada Bait kalimat selanjutnya, tentang Isim-isim yang mulhaq/diikutkan kepada I’rab jama’ mudzakkar salim. Adalah Isim yang tidak mencukupi dari syarat ataupun sifat yang wajib dimiliki oleh tiap Isim yang dapat dijadikan jama’ mudzakkar salim.

 

Dintara Isim-isim Mulhaq Jama’ Mudzakkar Salim tersebut, yang paling masyhur dalam penggunaannya adalah:

 

  • Kalimah isim yang menunjukkan arti banyak, dan tidak bisa dimufradkan baik secara lafazh atau secara makna: yaitu bab عِشْرُوْنَ (dua puluh) hitungan dari 20, 30, 40 hingga – 90.

 

contoh Firman Allah:

 

إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ

 

Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh.

 

وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

 

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam

 

  • Kalimah isim yang tidak menggenapi sebagian syarat Jama’ Mudzakkar Salim, seperti lafazh أَهْلٌ dijamakkan menjadi أهْلُوْنَ beserta ia bukan Isim Alam pun bukan Isim Sifat. Sebagaimana disebutkan dalam syawahid syi’ir:

 

وَمَا الْمَالُ وَاْلأَهْلُوْنَ إِلاَّ وَدَائِعٌ … وَلاَ بُدَّ يَوْماً أَنْ تُرَدَّ اْلوَدَائِعُ

 

Tidaklah harta dan sanak-keluarga melainkan hanyalah titipan, dan pastilah titipan itu suatu hari akan dikembalikan.

 

Seperti itu juga lafazh عَالَمُوْنَ dari lafazh عَالَمٌ (Alam, sesuatu selain Allah). Dijamakkan seperti Jama’ mudzakkar salim, beserta ia bukan Isim Alam pun bukan Isim Sifat. Contoh firman Allah:

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

 

  • Kalimah isim yang menunjukkan makna Jamak, namun secara lafazh ia tidak bisa dimufradkan. Semisal lafazh أُوْلُوْ. Contoh Firman Allah Swt.

 

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ

 

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu.

 

  • Kalimah mufrad yang di-jamak-kan menjadi isim alam, semisal lafazh عِلِّيُّونَ (kitab catatan amal baik, tempat paling tinggi di Surga, tempat di langit ketujuh dibawah ‘Arsy) dari isim mufrad عِلِّيٌّ (tempat tinggi) akan tetapi ini bukan dari jenis yang berakal. Seperti dalam firman Allah:

 

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ

 

Sekali-kali tidak, sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin.

 

وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ

 

Tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu?

 

  • Kalimah yang dijamakkan dengan merubah bentuk asal mufradnya, termasuk dari golongan jama’ taksir, akan tetapi ia di-mulhaq-kan kepada jama’ mudzakkar salim di-I’rab dengan huruf.

 

contoh: اَرَضُوْنَ, huruf Ra’ berharkah fathah, dan lafazh mufrad-nya disukunkan اَرْضٌ – perubahan bentuk asal mufrad, termasuk dari mufrad muannats, jenis tidak berakal, bukan isim alam, dan bukan isim sifat.

 

سِنُوْنَ dan babnya, huruf Sin di-kasrahkan pada jamaknya, dan di-fathahkan pada bentuk mufradnya سَنَةٌ – perubahan bentuk asal mufrad, termasuk dari mufrad muannats, jenis tidak berakal, bukan isim alam, dan bukan isim sifat. Contoh:

 

قَالَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِي الْأَرْضِ عَدَدَ سِنِينَ

 

Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?”

 

Adapun maksud daripada bab سِنُوْنَ adalah: setiap isim bangsa tiga huruf (Tsulatsi) yang dibuang Lam Fi’ilnya dan diganti dengan Ta’ muannats marbuthah (ة). Di’irab dengan harakah, bagi orang Arab ia tidak digolongkan pada jamak taksir. Misalnya lafazh; عِضَةٌ “kebohongan” jamaknya lafazh عِضُوْنَ dg meng-kasrah-kan huruf ‘Ain. Proses I’lal: asal mufradnya adalah عِضَوٌ isim bangsa Tsulatsi, dibuang Lam Fi’ilnya yaitu huruf Wau dan diganti dengan Ta’ muannats, maka menjadi عِضَةٌ. Contoh Firman Allah:

 

الَّذِينَ جَعَلُوا الْقُرْآنَ عِضِينَ

 

(yaitu) orang-orang (yahudi dan nashrani) yang telah menjadikan Al Quran itu terbagi-bagi (menjadikan kebohongan).

 

Contoh lain: عِزَةٌ manjadi عِزِيْنَ dan مِائَةٌ menjadi مِئِيْنَ dll.

 

عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِينَ

 

dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok

 

Lafazh عِزِيْنَ dinashabkan menjadi Haal. Mulhaq pada jama’ mudzakkar salim.

 

سِنُوْنَ dan bab-babnya yang dii’rab dengan mengikuti irab jama’ mudzakkar salim ini, termasuk sebagian aksen dari bangsa arab. Diantaranya pula ada yang meng-I’rab سِنُوْنَ dan bab-babnya dengan harakah zhahir pada huruf Nun terakhir yang biasanya ditanwinkan beserta tetapnya huruf Ya’ pada semua I’rabnya, tak ubahnya ia di-i’rab semisal lafazh حِيْنٍ. Contoh:

 

هَذِهِ سِنِيْنٌ مُجْدِبَةٌ

 

Ini adalah tahun-tahun yang gersang

 

وَأَقِمْتُ عِنْدَهُ سِنِيْناً

 

Aku tinggal bersamanya beberapa tahun.

 

دَرَسْتُ النَّحْوَ خَمْسَ سِنِيْنٍ

 

Aku mempelajari Ilmu Nahwu selama lima tahun.

 

Disebutkan pada salah satu Syawahid Sya’ir dalam bahar Thawil:

 

دَعَانِيَ مِنْ نَجْدٍ فإِنَّ سِنِينَهُ × لَعِبْنَ بِنَا شِيْباً وَشَيِّبْنَنَا مُرْدَا

 

Tolong kawan…!

 

Jangan ungkit lagi tentang Kota Najd

 

Sesungguhnya tahun-tahun di kota itu…

 

Telah mempermainkanku ketika aku sudah dalam keadaan ber-uban.

 

Sesungguhnya tahun-tahun di kota itu…

 

Telah mengubaniku semenjak aku masih dalam keadaan sangat muda.

 

Lafazh سِنِيْنَهُ pada Syair diatas, menunjukkan nashab dengan harakah Fathah dan bukan dengan Ya’, karena ia tidak membuang huruf Nun pada keadaan ia menjadi mudhaf.

 

Ada juga logat dan aksen bahasa arab, tetap meng-I’rab semua bentuk jama’ mudzakkar salim dan mulhaq-mulhaqnya, diberlakukan seperti irab isim mufrad (dii’rab harakah pada nun dengan tetapnya ya’) contoh:

 

جَاءَ مُعَلِّمِيْنٌ. كَلَّمْتُ مُعَلِّمِيْناً. سَلَّمْتُ عَلَى مُعَلِّمِيْنٍ

 

Para pengajar telah datang. Aku berbicara pada para pengajar. Aku memberi salam pada para pengajar.

 

Kesimpulan dari penjelasan bait:

 

Lafazh عِشْرُوْنَ dan saudara-saudaranya di-mulhaq-kan atau diikutkan kepada jamak mudzakkar salim dalam pengamalan I’rabnya. Seperti itu juga lafazh أهْلُوْنَ – عَالَمُوْنَ – أُوْلُوْ dan عِلِّيُّونَ.

 

Sedangkan untuk Lafazh اَرَضُوْنَ digaris-bawahi oleh Mushannif sebagai syadz dalam hal ke-mulhaq-annya. Seperti itu juga lafazh سِنُوْنَ dan babnya. Karena kedua lafazh ini adalah isim jenis bukan sifat, bukan isim alam, muannats, tidak berakal, tidak salim lafaz mufradnya, sama sekali tidak memiliki empat syarat untuk jamak mudzakkar salim. Oleh karena itu syadz-nya kedua lafazh tsb lebih kuat.

 

Disebutkan juga dalam bait: lafazh سِنِيْنَ dan babnya, di-I’rab semisal lafazh حِيْنٍ yakni, menetapkan huruf Ya’ dan Nun pada semua I’rabnya dengan dii’rab harkah zhahir atas Nun yang ditanwin pada nakirahnya.

Disebutkan pula dalam bait bahwa: ditemukan pada orang-orang arab yaitu mengi’rab semua lafazh jamak mudzakkar salim dan mulhaq-mulhaqnya semisal irab pada lafazh سِنِيْنَyang diserupakan dengan irab حِيْنٍ.

وَنُوْنَ مَجْمُوْعٍ وَمَا بِهِ الْتَحَقْ ¤ فَافْــتَحْ وَقَــلَّ مَنْ بِكَــسْرِهِ نَطَــقْ

 

Fathah-kanlah…! terhadap Nun-nya Jamak Mudzakkar Salim berikut Isim yang mulhaq kepadanya.  Ada sedikit orang Arab yang berucap dengan meng-kasrahkannya.

 

وَنُوْنُ مَا ثُنِّيَ وَالْمُلْحَقِ بِهْ ¤ بِعَـــكْسِ ذَاكَ اسْتَعْمَلُوْهُ فَانْتَبِهْ

 

Adapun Nun-nya Isim yang di-tatsniyah-kan berikut mulhaqnya, mereka (orang Arab) mengamalakannya dengan kebalikan Jamak mudzakkar salim (yakni, Nun Tatsniyah lebih banyak diamalkan dengan harakat kasrah) maka perhatikanlah…!

 

Huruf Nun (ن) yang ada pada akhir kalimah isim Jama’ Mudzakkar Salim, yang masyhur diucapkan dengan harakat Fathah untuk semua keadaan i’rabnya. Demikian juga di-harakat fathah, untuk Nun yang ada pada isim mulhaq jamak mudzakkar salim. Tidaklah maksud pengharkatan huruf Nun ini sebagai tanda i’rab, melainkan ia di-i’rab dengan huruf.

 

Ditemukan juga pada sebagian orang Arab (secara Syadz) meng-kasrahkan Huruf Nun setelah Ya’  (yakni, ketika keadaan Nashab dan Jar) pada Jama’ Mudzakkar salim dan Mulhaq-nya.  Sebagaimana termaktub dalam Syawahid Syair :

 

Syair Bahar Wafir oleh Jarir Bin ‘Athiyyah seorang penyair dari Bani Tamim (28 – 110 H. / 648 – 827 M.)  :

 

عَرَفْنَا جَعْفَراً وَبَني أبِيهِ ¤ وَأَنْكَرْنَا زَعَانِفَ آخَرِينِ

 

Kami kenal baik dengan Ja’far  dan putra-putra dari ayahnya (Bani Abi Ja’far) …
dan kami mengingkari terhadap Zi’nifah-zi’nifah (bagian kolompok pengikut) yang lain.

 

* Lafadz آخَرِيْنِ huruf Nun dikasrahkan bersamaan ia adalah Jamak Mudzakkar Salim. Nashab menjadi sifat bagi isim maf’ul زَعَانِفَ.

 

Juga Syair bahar Wafir oleh Penyair Suhaim bin Wusail Ar-Riyyahi  (40 SH. – 60 H. / 583 – 680 M.)

 

أَكُلَّ الدَّهْرِ حِلٌّ وارْتِحَالٌ ¤ أَمَا يُبْقِيْ عَلَيَّ وَلاَ يَقِيْنِي

 

apakah tetap berlangsung pada setiap masa … berdiam dan pergi ….
tidakkah masa membiarkanku menetap… dan memastikanku…. ???

 

وَمَاذَا تَبْتَغِي الشُّعَرَاءُ مِنِّي ¤ وَقَدْ جَاوَزْتُ حَدَّ الأَرْبَعِيْنِ

 

ooo…gerangan apa… mereka para penyair akan memperdayaiku ….
sungguh masa ini telah aku lewati selama kurun masa empat puluh tahun ….

 

* Lafadz الأَرْبَعِيْنِ huruf Nun dikasrahkan bersamaan ia adalah Isim Mulhaq Jamak Mudzakkar Salim majrur menjadi mudhaf ilaih.

 

Tidaklah kasrah pada Nun jamak salim dan mulhaqnya tersebut merupakan logat arab, ikhtilaf bagi mereka yang berdalih sepert itu. Adapun Huruf Nun pada Isim Mutsanna dan Mulhaq-mulhaqnya, yang masyhur di-harkati kasrah, sedangkan diharkati Fathah adalah merupakan logat bagi sebagian orang arab.  sebagaimana contoh syawahid syair :

 

Syair dalam Bahar  Thawil oleh Shahabah Nabi Humaid bin Tsaur Al-Hilaliy ra.  (? – 30 H. / ? – 650 M.)

 

عَلَى أَحْوَذِيَّيْنَ اسْتَقَلَّتْ عَشِيَّةً ¤ فَمَا هِيَ إِلاَّ لَمْحَةٌ وَتَغِيْبُ

 

dengan kelincahan kedua sayapnya (si burung Qutthah) terbang melesat pada senja hari…
tidaklah penglihatan ini  melainkan hanya sekilas kemudian ia menghilang…

 

* Lafadz أَحْوَذِيَّيْنَ huruf Nun difathahkan bersamaan dengan Ya’ tanda jar dari  Isim Mutsanna yang di-jarkan oleh huruf jar.

 

Bait Alfiyah di atas bukanlah maksud menghukumi jarang penggunaan harkah Kasrah untuk  Nun Jamak Mudzakkar Salim dan Harakat Fathah untuk  Nun Isim Mutsanna. Tetapi  maksudnya (sebagaimana dalam kitab syarah kafiyah as-syafiyah oleh beliau) Harakat Kasrah nun Jama’ Mudzakkar adalah Syadz, sedangkan Harakat Fathah Isim Mutsanna adalah sebagaian Logat. Dalam hal ini terdapat dua Qaul: 1. Fathah untuk Nun Mutsanna ketika bersama dengan Ya’,  atau 2. Fathah untuk Nun Mutsanna yang bersama Alif. Dzahirnya perkataan Mushannif  adalah untuk Qaul yang kedua, yakni Fathah Nun Mutsanna ketika bersama dengan Alif.

 

Contoh penggunaan Nun yang difathahkan dalam Syawahid Syair dari seseorang:

 

أَعْرِفُ مِنْهَا الْجِيْدَ وَالْعَيْنَانَا … وَمَنْخِرَيْنِ أَشْبَهَا ظَبْيَانَا

 

Aku mengenalinya…. lehernya….. kedua matanya…..
dan kedua lubang hidung tempat ingusnya… menyerupai hidung si Dzabyan….

 

* Lafadz الْعَيْنَانَا huruf Nun difathahkan bersamaan dengan tetapnya Alif bagi sebagian logat Arab pada Isim Mutsanna yg dinashabkan karena athaf pada isim manshub.

 

Status syair diatas ada yang mengatakan  mashnu’ (bukan dari bangsa arab), tidaklah 100% bisa dijadikan sebagai syahid syair. diceritakan oleh Ibnu Hisyam bahwa kesubhatan status Syair diatas, yaitu terkumpulnya dua logat dalam satu bait, menetapkan Alif lafazh tatsniyah ketika nashab (الْعَيْنَانَا)  dan lafadz lain menggunakan Ya’ pada (مَنْخِرَيْنِ ). sedangkan imam Sibawaihi dalam kitabnya mengatakan bahwa periwayatan syair diatas adalah Tsiqah dapat dipercaya.

وَمَــــــا بِتَـا وَأَلِـــفٍ قَدْ جُمِعَـــــــا ¤  يُكْسَرُ فِي الْجَرِّ وَفي النَّصْبِ مَعَا

 

Adapun kalimah yang di-jamak-kan dengan menambah Alif dan Ta’ (Jama’ Muannats Salim), adalah ditandai harakat kasrah didalam Jar dan Nashabnya secara bersamaan.

 

Setelah rampung penjelasan tentang kalimah-kalimah yang di-i’rab dengan huruf sebagai pengganti dari i’rab asal harakat, yaitu tanda I’rab Asmaus-Sittah, Isim Mutsanna dan Jama’ Mudzakkar Salim pada bait-bait sebelumnya.  Selanjutnya  Kiyai Mushannif Alfiyah Muhammad Ibnu Malik –semoga Allah Merahmatinya– menerangkan tentang Kalimah-kalimah yang di-i’rab dengan Harakat sebagai ganti dari Harakat tanda i’rab asal. Dalam hal ini terdapat dua kategori, yang pertama adalah dalam Bait ke 41 ini.  Yaitu kalimah yang di-jamak-kan dengan tambahan Alif dan Ta’ (ا – ت / alif zaidah dan ta’ zaidah) atau dinamakan Jamak  Muannats Salim.

 

◊◊◊

 

Definisi Jama’ Muannats Salim adalah: Lafazh yang menunjukkan lebih banyak dari dua, disebabkan oleh penambahan dua huruf Alif dan Ta’ Zaidah di akhirnya. contoh:

 

حَضَرَتِ الْمُتَحَجِّبَاتِ

 

Para wanita berjilbab telah hadir

 

*Maka  lafazh الْمُتَحَجِّبَاتِ pada contoh ini adalah lafadz jamak dengan tambaha alif dan ta’,  Jama’ Mu’annats Salim.

 

◊◊◊

 

Tanda I’rab Jama’ Muannas Salim adalah: Rafa’ dengan Dhammah (i’rab asal), Jar dengan Kasrah (i’rab asal) juga Nashab dengan Kasrah (pengganti i’rab asal Fathah). contoh:

 

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

 

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.

 

وَعَدَ اللهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ

 

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai

 

لِيُعَذِّبَ اللهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

 

sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.

 

◊◊◊

 

Dua kategori bukan Jamak Mu’annats Salim adalah: 1. Lafazh Jama’ ada Alif dan Ta’ di akhirnya tapi bukan Alif Zaidah, contoh:

 

قُضَاةٌ وَ دُعَاةٌ

 

Para hakim dan para pendakwa

 

Dua lafazh ini, berupa Alif asli salinan dari asal huruf  kalimah sebelum proses I’lal. asal bentuknya adalah قُضَيَةٌ  ya’ diganti alif karena jatuh sesudah fathah, dan دُعَوَةٌ wau juga diganti alif karena jatuh sesudah harakat fathah. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada page Kaidah I’lal ke 1: http://nahwusharaf.wordpress.com/belajar-ilal/kaidah-ilal/kaidah-ilal-ke-1/

 

2. Lafazh Jama’ ada Alif dan Ta’ di akhirnya tapi  bukan Ta’ Zaidah, contoh:

 

أَبْيَاتٌ، أَمْوَاتٌ، أَصْوَاتٌ

 

Bait-bait, Mayat-mayat, Suara-suara

 

Contoh ini, huruf Ta’-nya adalah asli kalimah bukan tambahan, lafazh mufradnya adalah بَيْتٌ، مَيِّتٌ، صَوْتٌ

 

Dua kategori lafazh-lafazh  jamak tersebut bukan Bab Jamak Muannats Salim, karena lafazh menunjukkan jamak bukan karena sebab Alif dan Ta’. akan tetapi termasuk pada kategori bentuk Jamak Taksir, dinashabkan dengan tanda irab asal yaitu Fathah.  contoh:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلاَ تَجْهَرُوا لَهُ

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras

 

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

 

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

 

 

Kesimpulan penjelasan Bait 41: Sesungguhnya Lafazh yang di jamak sebab tambahan Alif dan Ta’, di-i’rab dengan harakat kasrah ketika Jar dan Nashab secara bersamaan. Penyebutan Jar dengan tanda kasrah,  bukan sebagai penggati asal. Sedangkan penyebutan Nashab dg kasrah adalah pokok pembahasan dalam Bait kali ini, yaitu bagian pertama dari tanda i’rab dg harakat pengganti dari i’rab harakat asal.

كَذَا أُوْلاَتُ وَالَّذِي اسْمَاً قَدْ جُعِلْ ¤ كَــــأَذْرِعَــاتٍ فِــيْهِ ذَا أَيْــضَاً قُــبِلْ

 

Demikian  juga (Dii’rab seperti Jamak Muannats Salim) yaitu lafadz “Ulaatu”. Dan Kalimah yang sungguh dijadikan sebuah nama seperti lafadz “Adri’aatin” (nama tempat di Syam) yang demikian ini juga diberlakukan I’rab seperti Jamak Mu’annats Salim

 

 

 

Bait ini menerangkan tentang i’rab Isim-isim yang dimulhaq-kan pada Jama’ Muannats Salim. Dalam hal ini ada dua kategori:

 

(1). Lafadz أُوْلاَتُ . tanda irabnya diikutkan pada Jamak Muannats Salim, dimana ia tidak memenuhi syarat definisi Jama’ Muannats Salim,  karena secara Lafazh ia tidak memiliki bentuk mufrad, dan secara makna ia jamak , mempunyai arti: mereka (jamak female) Si empunya . contoh:

 

وَإِنْ كُنَّ أُوْلاَتُ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

 

Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin

 

(2). Lafazh yang dijadikan sebuah nama (Isim Alam) dari asal lafazh jama’ muannats salim. Maka menjadi Isim Alam dan secara otomatis bisa dipakai untuk mudzakkar dan muannats (male/female). Seperti contoh lafazh أَذْرِعَــاتٍ asal dari bentuk jamak أذرعة dengan bentuk mufrad ذراع kemudian menjadi  أَذْرِعَـاتٍ sekarang menjadi sebuah nama negri dari wilayah pinggiran Syam. Terdapat tiga Madzhab dalam menghukumi tanda Irab Isim yang sejenis أَذْرِعَاتٍ:

 

Madzhab pertama (Madzhab yg Shahih): dii’rab seperti lafazh Jamak Muannats Salim sebagaimana ketika belum dijadikan sebuah nama berikut di-tanwin. contoh:

 

هَذِهِ أَذْرِعَاتٌ وَرَأَيْتُ أَذْرِعَاتٍ وَمَرَرْتُ بِأَذْرِعَاتٍ

 

Ini negri Adri’at, aku melihat negri Adri’at, aku melewati negri Adri’at.

 

Madzhab kedua: menghukumi Rofa’ dengan dhammah, jar dan nashab dengan kasrah berikut menghilangka tanda tanwin. contoh:

 

هَذِهِ أَذْرِعَاتُ وَرَأَيْتُ أَذْرِعَاتِ وَمَرَرْتُ بِأَذْرِعَاتِ

 

Ini negri Adri’at, aku melihat negri Adri’at, aku melewati negri Adri’at.

 

Madzhab ketiga: menghukumi Rafa’ dengan dhammah, Jar dan Nashab dengan Fathah beserta menghilangkan Tanwin, seperti Isim tidak munsharif (ber-illat Alami beserta Mu’annats Ma’nawiy). contoh:

 

هَذِهِ أَذْرِعَاتُ وَرَأَيْتُ أَذْرِعَاتَ وَمَرَرْتُ بِأَذْرِعَاتَ

 

Ini negri Adri’at, aku melihat negri Adri’at, aku melewati negri Adri’at.

 

◊◊◊

 

Contoh Syahid syair untuk lafazh أَذْرِعَاتٍ (nama tempat di negeri Syam) boleh di-i’rab sesuai ketiga Madzhab diatas. Syair bahar Thawil  oleh Imru-ul Qais bin Hujr al-Kindi (130 SH. – 80 SH. / 497 – 535 M.)

 

تَنَوَّرْتُها مِنْ أذْرِعاتٍ وَأهْلُهَا ¤ بِيَثْربَ أدْنَى دَارِهَا نَظَرٌ عَالِى

 

dari kejauhan….
Kupandang api unggun negri Adri’at…
pada penduduknya yg berada di kota Yatsrib…
terasa paling terdekatnya rumah negri Adri’at…
adalah pemandangan yg bernilai seni tinggi…

 


 

Seperti lafazh أَذْرِعَاتٍ yaitu contoh lafazh عَرَفَاتٍ di dalam Al-Qur’an :

 

فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ

 

Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’aril-haram

 

Kesimpulan penjelasan Bait : bahwa lafazh أُوْلاَتُ ditandai dengan kasrah didalam Jar dan Nashabnya di-mulhaq-kan/mengikuti irab jamak muannats salim. demikian juga lafazh yang dijadikan sebuah nama (أَذْرِعَاتٍ) dari asal bentuk lafazh  jamak muannats salim.

وَجُــرَّ بِالْفَتْحَـةِ مَـالا يَنْصَرِفْ ¤ مَالَمْ يُضَفْ أَوْيَكُ بَعْدَ ألْ رَدِفْ

 

Jar-kanlah olehmu…! dengan tanda Fathah terhadap Isim yang tidak munsharif, selagi tidak dimudhafkan atau tidak berada setelah AL dengan mengekorinya

 


Diterangkan dalam Bait ini, bagian kedua dari Isim yang di-i’rab dengan harakat pengganti dari harakat asal. Yaitu Isim yang tidak Munsharif atau Isim ghair Munawwan atau isim yang tidak ditanwin.

 

Definisi Isim tidak munsharif adalah: setiap kalimah  isim mu’rab yang menyerupakan kalimah fi’il didalam hal terdapatnya dua illat dari sembilan illat, atau terdapat satu illat yg menempati maqom dua illat.

 

Contoh lafazh terdapat dua illat أَخْمَدُ “Ahmad” (Alami dan Wazan Fi’il) عَطْشَانُ “yg haus” (Sifat dan Ziadah Alif-Nun). contoh lafazh satu illat مَسَاجِدَ “Masjid-masjid” (bentuk/shighat Muntahal Jumu’).

 

Mengenai penyebab yang mencegah ditanwinkannya kalimah isim, dalam hal ini ada bab khusus yang akan diterangkan secara jelas disana –insyaAllah–. sedangkan dalam Bait ini, dimaksudkan mengenai hubungan dengan tanda I’rabnya. Rofa’ dengan Dhammah (i’rab asal), Nashab dengan Fathah (i’rab asal) dan Jar dengan Fathah (menggantikan i’rab asal Kasrah) contoh:

 

َجَاءَ أَحْمَدُ رَأَيْتُ أَحْمَدَ مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ

 

Ahmad datang, Aku melihat Ahmad, Aku berjumpa dengan Ahmad.

 

وَلَقَدْ جَاءَكُمْ يُوسُفُ مِنْ قَبْلُ بِالْبَيِّنَاتِ

 

Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan

 

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا ِللهِ حَنِيفًا

 

Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif

 

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا

 

Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya

 

Sebagai pengecualian tetap Jar dengan tanda  i’rab asal atau Kasrah,  bilamana Isim tidak munsharif/ghair munawwan tersebut berada pada dua posisi :

 

(1). Menjadi Mudhaf. contoh:

 

مَرَرْتُ بِأَحْمَدِكُمْ

 

Aku berjumpa dengan Ahmad-mu

 

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

 

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya

 

Tapi jika posisinya sebagai Mudhaf Ilaih, maka tetap berlaku tanda irab pengganti Jar dengan Fathah. contoh

 

هَذَا كِتَابُ أَحْمَدَ

 

Ini kitab Ahmad

 

إِنَّ اللهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

 

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).

 

(2).  Dimasuki huruf AL (ال). contoh:

 

سَأَلْتُ عَنْ اْلأَفْضَلِ مِنَ الطُّلاَّبِ

 

Aku bertanya tentang siswa terbaik dari para siswa

 

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

 

janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.

 

Kesimpulan pembahasan Bait:

 

Jarkanlah dengan Fathah sebagai pengganti dari i’rab asal Kasrah, terhadap isim yang tidak munsharif/ghair munawwan dengan syarat tidak mudhaf atau tidak dimasuki oleh AL yang mubasyaroh bertemu langsung tanpa pemisah.

وَاجْعَلْ لِنَحْوِ يَفْعَلاَنِ الْنُّوْنَا ¤ رَفْـعَاً وَتَدْعِــيْنَ وَتَسْـــــأَلُونَا

 

Jadikanlah! Nun sebagai tanda Rofa’ untuk contoh Kalimah-kalimah yang seperti lafadz يفعلان (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Alif Tatsniyah) dan lafadz تدعين (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Ya’ Mu’annats Mukhatabah) dan lafadz تسألون (Fi’il Mudhori’ yg disambung dg Wau Jamak)

 

وَحَذْفُهَا لِلْجَزْمِ وَالْنَّصْبِ سِمَهْ ¤ كَلَمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْ

 

Sedangkan tanda Jazm dan Nashabnya, yaitu dengan membuang Nun. seperti contoh َلمْ تَكُــــوْنِي لِتَرُوْمِي مَـــظْلَمَهْ

 

 

 


Setelah selesai menerngkan tentang I’rab pengganti untuk kalimah isim, selanjutnya bait menerangkan tentang I’rab pengganti untuk kalimah Fi’il. yaitu i’rab untuk Amtsilatul Khamsah atau Af’alul Khamsah atau contoh-contoh kalimah Fi’il yang lima.

 

Pengertian Af’alul Khamsah/Fi’il yang lima adalah: Setiap kalimah fi’il mudhari’ yang tersambung dengan Alif Tatsniyah, Wau jama’ atau Ya’ muannats mukhatabah.

 

Rinciannya sebagai berikut:

 

  • Fi’il Mudhari’ yang tersambung dengan Alif Tatsniyah terdapat 2 bentuk (berawalan huruf mudhara’ah Ya’ / Ta’ ) ada 4 penggunaan
  • Fi’il Mudhari’ yang tersambung dengan Wau Jama’  terdapat 2 bentuk (berawalan huruf mudhara’ah Ya’ / Ta’) ada 2 penggunaan
  • Fi’il Mudhari’ yang tersambung dengan Alif Tatsniyah terdapat 1 bentuk (berawalan huruf mudhara’ah Ta’) ada1 penggunaan

 

Lihat tabel berikut, Af’alul Khamsah ditandai warna oranye:

 

DIGUNAKAN UNTUK FI’IL AMAR FI’IL MUDHARI’ FI’IL MADHI

ORANG
KETIGA
MALE

TUNGGAL

×

يَنْصُرُ

نَصَرَ

DUAL

×

يَنْصُرَانِِ

نَصَرَا

JAMAK

×

يَنْصُرُوَْنَ

نَصَرُوْا

ORANG
KETIGA
FEMALE

TUNGGAL

×

تَنْصُرُ

نَصَرَتْ

DUAL

×

تَنْصُرَانِِ

نَصَرَتَا

JAMAK

×

يَنْصُرْنَ

نَصَرْنَ

ORANG
KEDUA
MALE

TUNGGAL

اُنْصُرْ

تَنْصُرُ

نَصَرْتَ

DUAL

اُنْصُرَا

تَنْصُرَانِ

نَصَرتُمَا

JAMAK

اُنْصُرُوْا

تَنْصُرُوْنَ

نَصَرْتُمْ

ORANG
KEDUA
FEMALE

TUNGGAL

اُنْصُرِيْ

تَنْصُرِيْنَ

نَصَرْتِ

DUAL

اُنْصُرَا

تَنْصُرَانِِ

نَصَرْتُمَا

JAMAK

اُنْصُرْنَ

تَنْصُرْنَ

نَصَرْتُنَّ

ORANG
PERTAMA
MALE/
FEMALE

TUNGGAL

×

أَنْصُرُ

نَصَرْتُ

DUAL/JAMAK

×

نَنْصُرُ

نَصَرنَا

 

Tanda I’rab Af’alul Khamsah adalah:

 

Rafa’ dengan tetapnya Nun sebagai ganti dari Dhammah. contoh:

 

هُمْ يَفْعَلُوْنَ

 

mereka (lk) bekerja

 

هُمَا يَفْعَلاَنِ / تَفْعَلاَنِ

 

mereka berdua (lk/pr) berkerja

 

أَنْتُمْ تَفْعَلُوْنَ

 

kalian (lk) bekerja

 

أَنْتُمَا تَفْعَلاَنِ

 

kamu berdua (lk/pr) bekerja

 

أَنْتِ تَفْعَلِيْنَ

 

kamu seorang (pr) bekerja

 

Contoh Firman Allah:

 

وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

 

Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.

 

Nashab dan Jazem  dengan membuang Nun sebagai ganti dari Fathah dan Sukun. contoh:

 

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ

 

Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka

وَسَمِّ مُعْتَلاًّ مِنَ الأَسْمَاءِ مَا ¤ كَالْمُصْطَفَى وَالْمُرْتَقَي مَكَارِمَا

 

Namailah! Isim Mu’tal, terhadap Isim-Isim yang seperti lafadz الْمُصْطَفَى (Isim yang berakhiran huruf Alif) dan seperti lafadz الْمُرْتَقَي مَكَارِمَا (Isim yang berakhiran huruf Ya’).

 

فَالأَوَّلُ الإِعْرَابُ فِيْهِ قُدِّرَا ¤ جَمِيْـعُهُ وَهْوَ الَّذِي قَدْ قُصِرَا

 

Contoh lafadz yang pertama (الْمُصْطَفَى) Semua tanda I’rabnya dikira-kira, itulah yang disebut Isim Maqshur.

 

وَالْثَّانِ مَنْقُوصٌ وَنَصْبُهُ ظَهَرْ ¤ وَرَفْـعُهُ يُنْــوَى كَذَا أيْضَــــاً يُجَرْ

 

Contoh lafadz yang kedua (الْمُرْتَقَي) dinamakan Isim Manqush, tanda Nashabnya Zhohir. Tanda Rofa’ dan juga Jarrnya sama dikira-kira.

 

Setelah menerangkan tentang tanda I’rab Kalimah-kalimah Isim dan Fi’il yang shahih, dan pada Bait-bait selanjutnya akan menerangkan tentang tanda i’rab untuk Isim Mu’tal dan Fi’il Mu’tal. Dimulai dari bait diatas dengan tanda Irab untuk Kalimah Isim Mu’tal. dalam hal ini terdapat dua isim Mu’tal yaitu Maqshur dan Manqush:

 

°°°

 

ISIM MAQSHUR المقصور

 

Definisi Maqshur adalah: Kalimah Isim Mu’rob yang berakhiran Alif Lazim. contoh فَيَى – عَصَى – رَحَى. Keluar dari definisi Maqshur adalah: رَمَى – يَخْشَى (Kalimah Fi’il). عَلى (Kalimah Huruf). مَتَى (Isim Mabni). الْهَادِيْ (berakhiran Ya’). زَيْدَانِ (Berakhiran Alif tidak Lazim).

 

Irab Isim Maqshur :

 

Di-i’rab dengan Harakat Muqaddar/dikira-kira atas Alif pada semua keadaan i’rabnya. Sebab yang mencegah i’rab zhahirnya karena udzur. Contoh Imamuna As-Syafi’i berkata:

 

contoh ketika Rafa’:

 

أَهَمُّ الْمَطَالِبِ رِضَا اللهِ

 

Paling pentingnya pengharapan adalah mengharap Kerelaan Allah

 

contoh ketika Nashab:

 

إِنَّ رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ

 

Sesungguhnya kerelaan manusia adalah batas yang belum final.

 

contoh ketika Jar:

 

اِحْرِصْ عَلَى رِضَا وَالِدَيْكَ

 

Tamaklah..! terhadap kerelaan kedua orang tuamu !

 

Allah berfirman:

 

ذَلِكَ هُدَى اللهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

 

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya

 

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ

 

Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya.

 

لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ

 

Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari’at tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syari’at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.

 

°°°

 

ISIM MANQUSH المنقوص

 

Definisi Manqush adalah: Kalimah Isim Mu’rob yang berakhiran Ya’ Lazim tidak bertasydid dan berada setelah harakat Kasrah . Contoh القَضِيْ – السَّاعِيْ – الوَافِيْ. Keluar dari definisi Maqshur adalah: يَعْطِيْ (Kalimah Fi’il). فِيْ (Kalimah Huruf). الذِيْ (Isim Mabni). الْفَتَىْ (berakhiran ِAlif layyinah/Ya’ maqshur). زَيْدَيَنِ (Berakhiran Ya’ tidak Lazim). ظَبْيٌ (jatuh sesudah sukun) كُرْسِيٌّ (Ya’ bertasydid). Untuk Lafazh ظَبْيٌ dan كُرْسِيٌّ tetap di-i’rab dengan harakat zhahir, Firman Allah:

 

فَأَذَاقَهُمُ اللهُ الْخِزْيَ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

 

Maka Allah merasakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ

 

Hai manusia, sesungguhnya kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri

 

°

 

Tanda I’rab Isim Manqush, apabila ia dimasuki AL atau menjadi Mudhaf maka huruf Ya’-nya ditetapkan:

 

Tanda Rofa’-nya dengan Dhammah yang dikira-kira atas Ya. Juga tanda Jar-nya dengan Kasrah yang dikira-kira atas Ya’. Sedangkan sebab yang menjadikan tercegahnya Harakat secara zhahir karena berat mengucapkannya » rujukan lihat pada Kaidah I’lal ke 5.

 

contoh ketika Rofa’ bersama AL:

 

السَّاعِيْ لِلْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ

 

orang yang bertugas untuk kebaikan sama halnya dengan orang yg berbuat kebaikan itu sendiri.

 

contoh ketika Rofa’ menjadi Mudhaf:

 

جَاءَ قَاضِي الْقُضَاةِ

 

Hakim agung telah datang.

 

contoh ketika Jar bersama AL:

 

عَلَى الْبَاغِيْ تَدُوْرُ الدَّوَائِرُ

 

balasan atas orang yang aniaya, bencana akan kembali padanya (karma tetap berlaku)

 

contoh ketika Jar menjadi Mudhaf:

 

سَلَّمْتُ عَلَى قَاضِي الْقُضَاةِ

 

aku memberi salam pada Hakim agung.

 

Terkadang huruf Ya’ nya dibuang ketika rafa’ atau jar, sebagai penunjukan bahwa sebelum Ya’ berharakat kasrah, maka berlaku juga Isim Manqush yang bersamaan AL dan tanpa tanwin, seperti berlakunya Isim Manqush yang tanpa AL dengan ditanwin. contoh:

 

contoh ketika Rafa’

 

يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ إِلَى شَيْءٍ نُكُرٍ

 

(Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan)

 

contoh ketika Jar

 

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

 

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku

 

Tanda Nashab Isim Manqush yg dimasuki AL atau menjadi Mudhaf tersebut, adalah Nashab dengan Harakat Zhahir.

 

contoh besamaan dengan AL

 

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

 

Rasulullah melaknat orang yang memberi suap dan orang yang menerima suap.

 

contoh menjadi mudhaf

 

رأيت قاضيَ القُضَاةِ

 

Aku melihat Hakim Agung

 

يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ

 

Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah

 

°

 

Tanda I’rab Isim Manqush, apabila ia tanpa AL atau tidak Mudhaf maka huruf Ya’-nya dibuang dan mendatangi Tanwin ketika Rafa’ dan Jar. Atau Ya’-nya ditetapkan ketika Nashab:

 

Tanda Rofa’-nya dengan Dhammah yang dikira-kira atas Ya yang dibuang. Juga tanda Jar-nya dengan Kasrah yang dikira-kira atas Ya’ yang dibuang. Sedangkan sebab terbuangnya Ya’ tersebut, karena bertemunya dua mati yaitu Ya’ Manqush dan Tanwin » rujukan lihat pada Kaidah I’lal ke 5.

 

contoh Rafa’ :

 

الْمُؤْمِنُ رَاضٍ قَانِعٍ

 

Sorang Mu’min adalah seorang yang suka rela dan menerima apa adanya.

 

إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ

 

Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.

 

contoh Jar :

 

رُبَّ سَاعٍ لِقَاعِدٍ

 

Mungkin kali… seorang yg berusaha orang yg duduk-duduk (usaha bung…!)

 

وَمَنْ يُضْلِلِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

 

Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk.

 

Tanda Nashab-nya dengan Fathah yang Zhahir/terang contoh:

 

سَمِعْتُ مُنَادِياً يُنَادِيْ لِلصَّلاَةِ

 

Aku mendengar seorang pemanggil sedang memanggil untuk shalat.

 

وَكَفَى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

 

Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong

وَأَيُّ فِعْــلٍ آخِرٌ مِنْهُ أَلِفْ ¤ أوْ وَاوٌ أوْ يَاءٌ فَمُعْتَلاًّ عُرِفْ

 

Setiap Kalimah Fi’il yang akhirnya huruf illat Alif , Wau atau Ya’, maka dinamakan Fi’il Mu’tal.

 

فَالأَلِفَ انْوِ فِيْهِ غَيْرَ الْجَزْمِ ¤ وَأَبْـــدِ نَصْبَ مَا كَيَدْعُو يَرْمِي

 

Kira-kirakanlah! I’rab untuk Kalimah Fi’il yang berakhiran Alif pada selain Jazmnya. Dan Zhohirkanlah! tanda nashab untuk Kalimah Fi’il yang seperti يَدْعُو (Berakhiran huruf Wau) dan يَرْمِي (Berakhiran huruf Ya’)…

 

والرَّفعَ فِيْهِمَا انْوِ وَاحْذِفْ جَازِمَا ¤ ثَــلاَثَـــهُنَّ تَقـْـــضِ حُكمَــا لازِمَــــا

 

dan kira-kirakanlah! tanda Rofa’ untuk kedua lafadz (يَدْعُو dan يَرْمِي ). Buanglah (huruf-huruf illat itu) dimana engkau sebagai orang yang menjazmkan ketiga Kalimah Fi’il Mu’tal tsb, maka berarti engkau memutuskan dengan Hukum yang pasti.

 

Disebutkan dalam bait-bait ini tentang kalimah yang mu’tal bagian kedua. Yaitu kalimah Mu’tal untuk kata kerja/kalimah Fi’il. Adalah pembahasan terakhir dari kitab Alfiyah Bab Mu’rab dan Mabni. Merupakan bagian ketujuh dari tanda-tanda irab niyabah atau irab pengganti asal.

 

Pengertian kalimah Fi’il Mu’tal adalah: setiap kalimah Fi’il yang berakhiran huruf wau setelah harakat dhammah, atau berakhiran huruf ya’ setelah harakat kasrah, atau berakhiran alif setelah harakat fathah. Maksud dari kalimah Fi’il dalam hal ini adalah Fi’il Mudhari’. Sebab asal pembahasan mengenai kalimah Mu’rab.

 

Tanda I’rab Fi’il Mu’tal:

 

(1). Mu’tal Alif:

 

Rafadengan Dhammah yang dikira-kira atas alif, dicegah i’rab zhahirnya karena udzur, contoh:

 

الْمُتَّقِيْ يَخْشَى رَبَّهُ

 

Orang yang bertaqwa adalah dia yang takut kepada Tuhannya.

 

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

 

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.

 

Nashabdengan fathah yang dikira-kira atas alif. contoh:

 

لَنْ يَرْضَى الْعَاقِلُ بِاْلأَذَى

 

seorang yang berakal tidak akan rela disakiti.

 

وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقََى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إلاَّ رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ

 

Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu

 

Jazmdengan membuang huruf Illah Alif, dan harakat Fathah adalah sebagai buktinya. contoh:

 

الْعَاصِيْ لَمْ يَخْشَ رَبَّهُ

 

Orang yang suka maksiat adalah dia yang tidak takut kepada Tuhannya.

 

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

 

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi

 

°

 

(2). Mu’tal Wau:

 

Rafa‘ dengan dikira-kira atas wau, dicegah i’rab zhahirnya karena berat. contoh:

 

الْمُوَحِّدُ لاَ يَدْعُوْ إلاَّ اللهَ

 

Seorang yang meyakini keesaan Allah, dia tidak menyeru kecuali kepada-Nya.

 

هُنَالِكَ تَبْلُو كُلُّ نَفْسٍ مَا أَسْلَفَتْ

 

Di tempat itu (padang Mahsyar), tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu

 

Nashabdengan harakat Fathah zhahir atas wau, karena paling ringnnya harakat. contoh:

 

لَنْ يَسْمُوَ أَحَدٌ إلاَّ بِأَدَبِهِ

 

seseorang tidak akan dipandang kecuali dengan budi perkertinya.

 

لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا

 

kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia

 

Jazm dengan membuang huruf Illah Wau, dan harakat Dammah adalah sebagai buktinya. contoh:

 

لا تَدعُ على أولادك

 

Jangan.. berdo’a jelek untuk anak-anakmu…!

 

فَلْيَدْعُ نَادِيَهُ

 

Maka biarlah dia memanggil golongannya.

 

°

 

(3). Mu’tal Ya’:

 

Rafa‘ dengan Dhammah yang dikira-kira atas Ya’, dicegah i’rab zhahirnya karena berat, contoh:

 

أَنْتَ تُرَبِّيْ أَوْلاَدَكَ عَلَى الْفَضِيْلَةِ

 

Kamu didik anak-anakmu dengan kemulyaan.

 

لاَ إِلَهَ إلاَّ هُوَ يُحْيِِيْ وَيُمِيْتُ

 

Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan.

 

Nashab dengan harakat Fathah Zhahir atas Ya’, karena merupakan peling ringannya harakat. contoh:

 

لَنْ تُعْطِيَ الْفَقِيْرَ شَيْئاً إلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهِ

 

Jangan berikan sesuatupun kepada orang faqir kecuali engkau diganjar untuk itu.

 

قَالُوا يَا مُوسَى إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَى

 

(Setelah mereka berkumpul) mereka berkata: “Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah orang yang mula-mula melemparkan?”

 

Jazm dengan membuang huruf Illah berupa Ya’, dan harakat Kasrah merupakan buktinya. contoh:

 

لاَ تُؤْذِ جَارَكَ بِقُتَارِ قِدْرِكَ

 

Jangan sakiti hati tetanggamu dengan bau asap periukmu…!

 

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ

 

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya

 

Kesimpulan pembahasan: Fi’il Mu’tal adalah Fi’il yang berakhiran Alif, Wau atau Ya’. Semua i’rabnya dikira-kira atas Alif selain Jazm. Dan untuk yang berakhiran wau atau ya’, zhahirkan pada nashabnya dan dikira-kira pada rafa’nya. Dan semua fi’il mu’tal tanda jazemnya dengan membuang huruf illah.

BERSAMBUNG PADA BAB SELANJUTNYA…,SABAR YEA….???????


1 thought on “BELAJAR NAWHU SHARAF”

  1. Trmksh artklnya sngt bgs,aplagi klo seluruh baitnya d jlskn.hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s